maandag 26 april 2010

Citizen Journalism, Saat Minum Teh


Hari Sabtu 27 Maret 2010, empat hari sebelum pemilihan Dewan Kota di Belanda dan seminggu setelah kabinet Balken jatuh. Monigue penduduk Belanda biasa, mengundang Karin bersama Pieter suaminya minum teh pada sore hari ketika cuaca diluar sangat dingin.

“Kabinet Balken tumbang, persiapan pemilihan presiden baru empat bulan lagi. Moga-moga partai dari Geert Wilders tidak menggantikan kabinet baru,” kata Jan suami Monigue yang sambil mengaduk gula di cangkir teh dengan sendok kecil.

“Pemimpin partai politik PVV Geert Wilders, hmmm..," Karin mencibirkan bibirnya, "Bayangkan saja kalau partai ini mandapatkan kursi terbanyak! Sekarang hanya sebagai ketua partai, dia tidak boleh memasuki Inggris. Bagaimana kalau laki-laki itu jadi presiden! Banyak negara akan memboikot ekonomi Belanda, yang jelas Belanda akan hancur,” kata Karin sambil meletakkan cangkir tehnya yang kosong di atas meja kaca.

“Aah…, Paling tidak, Belanda punya mode rambut baru. Gaya rambut Geert Wilders yang sedikit oranye, sepertinya terlalu banyak cat rambut,” jawab Monigue sambil menuangkan teh di cangkir Karin yang kosong sambil tertawa. Tamu dan suaminya tertawa terbahak-bahak menanggapi kata-kata nyonya rumah yang konyol itu.

Sementara topik lain keluar lagi silih berganti dari masalah ekonomi Belanda yang resah karena pengaruh ekonomi Amerika yang lagi ambruk, kemudian tentang Sven Krammer tokoh olahraga, lalu kembali lagi ke masalah politik, kemudian masalah undang-undang baru di Belanda yang baru disahkan. Kadang datang diskusi atau debat yang menghangatkan suasana.

Inilah suasana minum teh di Belanda ketika merayakan sebuah pesta, entah pesta ulang-tahun atau entah hanya sekedar mengunjungi saudara atau sahabat. Kebudayaan minum teh di Belanda dilakukan pada pukul sepuluh pagi, pukul tiga sore dan pukul delapan malam, bersama keluarga, saudara atau teman. Mereka duduk dengan membentuk lingkaran di ruang tamu, di tempat kerja atau di sebuah restoran sambil berkomunikasi dan tukar-menukar informasi.

Saat seperti ini mereka adalah model Citizen Journalism karena mengangkat topik-topik yang aktual di kehidupan sekeliling. Ini adalah contoh sehari-hari pewarta warga yang menyampaikan informasi kepada teman minum teh dengan dasar kontak sosial yang hangat dan nyata tanpa dunia internet atau dunia maya.

Cuaca di luar rumah Monigue pada sore itu semakin dingin, ia di dapur memotong appeltaart yang dibuat semalam sebelumnya dan meletakkan di atas empat piring kecil. Lalu membawa ke ruang tamu untuk membagikan kepada tamu-tamunya. Sementara Jan suaminya memenuhi kan teh yang sudah kosong dengan teh baru yang sangat panas, kemudian ia menyalakan beberapa lilin di atas meja untuk menghangatkan suasana ruang tamu dan menghangatkan percakapan mereka.


foto: www.rianna.web-log.nl

Hidup atau Mati

Sabtu malam, 22 anak-anak muda berumur antara 12-18 tahun berkumpul di pinggiran kota. Beberapa dari mereka duduk di tangga beton dan yang lain berdiri. Mata dan telinga mereka berpusat pada Javier the copkiller, berumur 18 tahun, pemimpin gang. Dengan bangga pemuda ini menghitung jumlah korban yang ia tembak dengan jari-jari tangannya. Di pangkuannya sebuah senjata kaliber AK-47. Juan anggota termuda memandang pimpinannya dengan mata berbinar sambil memainkan pistol di tangan.

Inilah gambaran kehidupan 400.000 anak jalanan di Caracas. Mereka menjadi anggota dalam sebuah gang dan masing-masing mempunyai senjata. Pada awalnya pekerjaan mereka mencopet, mencuri, merampok, menyelundupkan narkotika kemudian meningkat menjadi pembunuh. Kasus pembunuhan tersebut terjadi dengan beribu alasan, seperti; membunuh karena harus melindungi diri terhadap serangan, membalas dendam karena salah satu anggota gang terbunuh dan bahkan karena untuk mendapat bayaran.

Peristiwa pembunuhan di ibu kota Venezuela terjadi hampir setiap hari, terutama pada malam Sabtu atau malam Minggu sampai mencapai 60 - 80 kasus. Pada akhir 2009 terjadi 20.000 kasus pembunuhan. Jumlah ini mencapai record tertinggi di dunia. Selanjutnya diperkirakan semakin meningkat per tahun, sampai-sampai pihak kepolisian berhenti menghitungnya. Korban dan pelaku kebanyakan adalah anak-anak jalanan yang sedang berkelahi dengan gang lainnya.

Seperti yang dipaparkan oleh Alberto Vollmer, seorang multi jutawan asal negeri itu, mengatakan bahwa masalah yang dihadapi mereka sama dengan masalah sosial yang dihadapi anak jalanan di negera-negara lain, bedanya anak jalanan di Caracas harus berjuang mempertahankan nyawa untuk hidup.

Alberto pengusaha kopi dan rum terbesar di Amerika Selatan mendirikan sebuah proyek yang disebut "Alcaltraz". Proyek ini menengahi para grup gang yang sedang bertikai dan mencoba membujuk para anggotanya keluar dari kehidupan jalanan untuk bekerja di pabriknya. Melalui proyek integrasi, ia berusaha mengubah masalah sosial dan psikologi mereka sehingga bisa kembali berfungsi sebagai pemuda bermasa-depan. Sampai saat ini 150 dari 400.000 anak jalanan itu dengan sukarela mengikuti proyek tersebut. Selebihnya masih di jalanan tanpa harapan.

Malam semakin larut, anak-anak jalanan itu berjalan bergerombol meninggalkan tempat berkumpulnya menuju kampung Patara, tempat pertemuan mereka dengan gang lainya. Javier the copkiller berjalan di samping Juan sambil berkata, “Waktu akan tiba, kamu pun akan tangguh seperti aku. Waspadalah selalu. Jika kamu ingin hidup, maka musuhmu harus mati!”

Tiba-tiba, "Bang! Bang! Bang!" Suara tembakan berasal dari arah selatan. Gerombolan itu bubar. Mereka melompat ke balik tembok. Beberapa bertiarap dan merangkak ke arah got. Javier menarik Juan ke belakang sebuah mobil, lalu membidikkan senjatanya ke arah selatan.

Di tengah suara tembakan yang bertubi-tubi, suara jeritan anak laki-laki dari belakang mobil melengking. Javier, pemuda ganteng dan pemimpin gang itu, terkapar di pangkuan seorang bocah kecil berumur 12 tahun. Banjiran darah mengalir dari dadanya.

Di Balik Tembok Israel

Tembok pagar tebal berwarna putih abu-abu berdiri dengan kokoh di sepanjang mata memandang. Di bagian atas bangunan itu berbaris 10 jajaran kawat duri untuk menambah ketinggian tembok. Pada kawat duri itu, dililiti kabel listrik ribuan watt. Ratusan pipa besi tertancap dan berbaris di bagian atas. Pada setiap ujung pipa itu, menompang sebuah kotak lensa kamera ke arah Tepi Barat di Palestina.

Di sisi tembok itu beberapa coretan dan lukisan, dibuat oleh pemuda Palestina. Sebuah lukisan dari cat berwarna hitam, menggambarkan badan dan kepala seorang laki-laki tua dengan jubah putih yang dilingkari band hitam. Tangannya memegang dua kunci rumah yang ditinggalkan sejak tahun 1948. Rumahnya berada di tanah nenek moyang di balik tembok itu, tetapi di bawah kekuasaan Israel.

Beberapa langkah dari lukisan itu, beberapa rangkaian huruf ditulis dengan cat merah, berbunyi; “Free Palestina!” Lalu beberapa kalimat menyusul dibawahnya; ”Im not terrorist, I live here.” Kemudian jarak dua meternya lagi sebuah kalimat berwarna hitam dengan huruf kapital; “Who are you? Catholic, Jew, Muslim, Human being…” dan disusul dengan huruf bergandeng; "This wall is a shame on the Jewish people, on my people.”

Tembok pemisah itu melingkari Tepi Barat bagaikan sebuah penjara bagi penduduk. Dibangun oleh bangsa Israel sejak tahun 2002 dan tahun 2010 ini hampir selesai. Panjangnya sekitar 700 km dengan ketinggian sekitar 3 meter. Biaya tembok ini diperkirakan per kilo meternya sekitar dua juta Euro. Tujuannya untuk melindungi penduduk Israel dari bahaya serangan lawan yang mereka sebut sebagai teroris.


Palestina tidak menerima ini karena menginjak harkat, martabat dan menghancurkan ekonomi bangsanya. Demikian juga PBB menganggap tembok ini ilegal. Selain itu Israel membangun tembok dengan berbelok-belok, 80% berada di atas tanah penduduk Palestina. Ini sangat menyakitkan karena mereka terpaksa menyerahkan tanahnya.

Jika penduduk harus mencapai daerah bagian lain demi pekerjaan atau mengunjungi sanak dan keluarga di daerah lain di balik tembok, maka penduduk Palestina ini harus melewati puluhan check point yang diawasi ketat oleh tentara-tentara Israel. Ini membutuhkan waktu berjam-jam karena harus melalui jalan putar. Itupun tidak gampang, kadang mereka setelah melakukan perjalanan yang jauh, ternyata tidak lolos memasuki pintu gerbang. Akibatnya mereka terisolasi dan merasakan hidup seperti di penjara.

Ratusan Check point tidak hanya berada di pintu gerbang masuk, tetapi berada di sisi jalan yang bersebelahan dengan tembok dan berada di wilayah negara Palestina. Sehingga para pengguna jalan harus dipatroli seperti pencuri. Contohnya saja untuk mencapai daerah lain di Tepi Barat yang berada sekitar 20-30 km dari arah selatan Ramallah, ibu kota Palestina, membutuhkan waktu berjam-jam. Karena harus melalui puluhan Check point dan jalan putar. Hal ini sangat mempersulit distribusi bahan pokok dan membuat frustasi penduduk.

Seperti yang terjadi di daerah Qalqilaya, Israel membangun tembok sepanjang 2 km dengan ketinggian tidak hanya 3 meter, malahan 8 meter dan berjarak 100 meter dari rumah penduduk. Ini mengakibatkan kerugian penduduk Palestina, karena merusak tanah dan rumah.

Suatu siang, ketika matahari mulai tenggelam di balik tembok tinggi 8 meter dan suara adzan luhur dari ufuk timur, seorang laki-laki muda berumur 19 tahun menulis di atas meja di bawah jendela. Mata kirinya kadang menatap tembok tempat dimana dulu dereten pohon zaitun dari orang tuanya. Rambutnya rapi dan dipotong pendek. Di pipi dan bibir tampak goresan bekas luka dan mata kanannya buta akibat pecahan kaca mobil yang meledak karena bom dua tahun lalu. Di dalam kamar yang selalu pengap dan remang, akibat dari tembok tinggi yang menghalangi masuknya cahaya matahari dan menutup rumah dengan bayangan hitam. Ia berusaha melebarkan kelopak mata kirinya lebar-lebar untuk bisa melihat dengan jelas.

Di atas kertas putih buram ia menulis;
"Aku menunggu, hari indah untuk membebaskan penderitaan bangsa Palestina dari belenggu bangsa Israel. Aku mencari jalan menuju tanah airku, jalan menuju identitasku. Meskipun dalam impian. Aku menunggu, untuk kembali ke ladang zaitun di balik tembok tinggi itu. Meskipun 100 tahun lagi."

Sumber:
1. Preliminary analysis of the humanitarian implications of Barrier Projections, UN OCHA.
2. United Civilians for Peace,
3. Berita Veronica- Belanda
4. Telegraaf.

Si Pemandu Wisata di Roma




Judul Buku: Eyewitness Travel: Rome.
Penulis: Olivia Ercoli, Ros Belford and Roberta Mitchell
ISBN: 9781405333771
Ukuran: 125 x 217mm
Tebal : 448
Diterbitkan: 02 Maret 2009
Penerbit: Dorling Kindersley Limited, London

Tema hari pertama adalah Roma kuno. Pada pagi hari menelusuri sejarah Republik seperti mengunjungi Forum Romanum, permandian Pompeii dimana Julius Caesar dibunuh. Kemudian makan siang di Ristorante Da pancrazio dengan suasana abad pertengahan. Pada siang hari menikmati keagungan kekaisaran dan melihat bagaimana para kaisar tinggal dengan mengunjungi kuil-kuil di Forum Boarium, Domus Aurea, dan mengunjungi Collosseum dimana para gladiator mempertarungkan nyawanya.

Hari kedua, berada kota Vatikan untuk mengunjungi museum Vatikan. Di sana menikmati karya seni dari para seniman seperti Michelangelo, Bramanta, Bernini, Rafael, dan Celini. Kemudian mengunjungi gereja St. Pieter dimana pada setiap hari minggu jam 12 siang, Paus Benedictus berdiri di balkon gereja, memberkati para ribuan umat katholik. Lalu makan siang di restoran Fraterna Domus atau L’ Eau Vive yang dikelola oleh para biarawati. Dan diteruskan dengan kunjungan ke gereja tua lainnya dan sebuah benteng vatikan.

Hari ketiga, melihat patung-patung dari kuda laut dan Neptunus yang diapit oleh dua triton di tengah air mancur Di trevi. Dari tempat itu berjalan mengunjungi museum nasional Palazzo Altemps. Kemudian mampir ke tangga Spanyol terkenal, duduk diatas tangga tersebut sambil menikmati kelembutan es cream atau sambil menikmati tonel dari seniman jalanan. Mungkin jika menyukai, bisa belanja di kaki lima, toko second hand, outlet, atau toko eksklusif yang menjual GUCCI, PRADA, Channel, dan barang mahal lainnya.

Hari keempat, jika mempunyai anak-anak sangat menyenangkan untuk mengunjungi kebun binatang Bioparco atau melihat teater boneka di San Corlino. Pilihan lainnya menyewa sepada untuk melihat jalan-jalan atau perkampungan yang dibuat pada abad pertengahan. Lalu duduk di teras restoran untuk menikmati makan siang di Piazza Novona di tengah-tengah bangunan gedung-gedung Renaissance.

Di restoran menikmati hidangan pengantar anti pasta (daging asap seperti salami atau ham) atau roti bruscheta, lalu hidangan pembukanya pasta atau pizza, kemudian hidangan utama daging sapi muda steak yang disebut Saltimbocca alla Romana dan ditemani minum anggur merah Chianti atau anggur putih Frascati. Kemudian datang hidangan penutup tiramisu dan diakhiri dengan espresso, cappuccino atau caffe latte. Begitu nikmat dan menakjubkan di tengah suasana yang indah dan diselingi suara musik accordion yang dimainkan oleh pengamen di dekat air mancur seni barok. Maka hanya kalimat; ”Mamma Mia...,” bisa melukiskan suasana ini.

Menurut buku Eyewitness Travel Guides Rome ini, mengunjungi Roma cukup dalam empat hari. Selain biaya perjalanan dan accomondasi sangat mahal, sementara waktu sedikit karena terlalu banyak tempat yang dikunjungi. Hal ini perlu perencanaan yang sistemmatis dan baik sehingga tidak membuang waktu dan uang.

Buku guide ini, memandu para wisatawan di kota Roma. Dalam buku pemandu ini terdapat informasi lengkap tentang tempat sejarah dari kuil, gereja tua, museum, sampai tempat recreasi, tempat belanja, restaurant, cafe, dan hotel. Malahan tertulis informasi secara detail tentang biaya, tiket untuk masuk atau waktu yang tepat untuk memgunjungi tempat tujuan dari murah sampai mahal. Demikian juga dijelaskan bagaimana cara menggunakan transportasi umum dan murah di Italia mulai turun dari pesawat atau dari tempat ke tempat lain di setiap sudut kota tanpa takut tersesat dengan menggunakan kereta api, bis umum, atau MRT.

Buku ini juga menulis sejarah secara garis besar dari hampir dari semua obyek seperti gedung, gereja, lukisan, patung sampai tokoh-tokoh penting di masa sejarah Roma Kuno, sejarah gereja Katholik dan setiap wilayah di kota museum terbuka ini, dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca. Malahan didukung dengan ilustrasi, gambar, lukisan, foto, atau peta secara mendetail sehingga tidak membosankan. Kadang menampilkan gambar tiga dimensi untuk melengkapi informasi.

Dengan buku ini para wisatawan mendapat ratusan informasi mengenai budaya dan seni Roma, termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Malahan di halaman terakhir terdapat daftar kalimat dan kata benda penting dalam bahasa Italia. Sehingga para wisatawan bisa berkomunikasi secara sederhana jika membutuhkan, karena di negara ini tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris.

Kekurangan satu-satunya pada buku ini yaitu peta kota Roma yang tidak praktis. Untungnya para wisatawan bisa mengganti dengan peta resmi kota Roma. Ini bisa dibeli di kios-kios dengan harga murah. Malahan banyak hotel memberikan kepada tamunya secara cuma-cuma.

Selebihnya keuntungan buku ini dengan buku guide lainnya, lengkap dan tidak begitu berat sehingga tidak memakan tempat banyak di tas sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Selain itu penerbit Dorling Kindersley Limited juga menerbitkan banyak buku panduan daerah wisata lain dengan menggunakan methode yang sama, seperti Singapura, Thailand, Hongkong, New York, Australia dll. Ternyata buku ini sangat dibutuhkan sehingga banyak penerbit buku dari negara-negara di luar Inggris juga menerbitkan buku ini dengan bahasa negara lain.

Singkatnya banyak informasi bisa didapat dari buku ini. Jika para wisatawan mengunjungi Roma, tidak perlu lagi melalui travel atau seorang guide yang mahal. Dengan buku ini para wisatawan mendapatkan pemandu wisata pribadi tanpa mendengar kotekan para guide dan bisa menikmati keindahan kota dengan tenang, santai dan optimal. Selamat berwisata.

Nanny McPhee and The Big Bang



Acteurs: Emma Thompson, Maggie Gyllenhaal, Ralph Fiennes, Rhys Ifans, Maggie Smith
Regisur:Susanna White
Panjang:109 menit
Tahun :2010

Nanny McPhee seorang pengasuh dan pendidik anak, mempunyai kekuatan gaib dengan baju jubah panjang berwarna hitam. Ia datang ke keluarga yang membutuhkan dengan tongkat ajaibnya. Wanita bermuka seperti penyihir ini mendapatkan keluarga di sebuah pertanian. Ayah atau kepala keluarga yang seharusnya mengelola tanah pertanian, meninggalkan tugasnya sebagai petani untuk mengabdi negara di medan perang. Sementara istri Ny. Isabel Green harus menggantikan tugas suaminya dan berusaha menyelamatkan tanah pertanian dari adik iparnya.

Mengerjakan ladang dan juga bekerja di sebuah toko sambil mengontrol tiga anak yang selalu ribut sangat berat untuk seorang wanita muda ini. Tanggungan istri petani ini bertambah berat ketika dua keponakan yang nakal dari kota besar datang ke tanah pertanian mereka. Setelah kedatangan mereka, ketenangan di pertanian itu semakin terusik. Segalanya menjadi lebih kacau, berantakan, dan tidak terkendalikan.

Nanny McPhee datang kepada mereka ketika dibutuhkan meskipun tidak diinginkan dan ia akan pergi jika mereka menginginkan tetapi tidak membutuhkannya. Di pertanian ini, Nanny Mcphee yang diperankan oleh Emma Thompson, berada di tengah peperangan antara tiga anak petani desa dengan dua anak manja dari kota. Dengan kekuatan gaib dan tongkat ajaibnya terjadi bermacam-macam keajaiban untuk mengendalikan anak-anak itu. Dalam cerita film ini terjadi adegan seperti motor terbang, patung hidup, gajah bersikap aneh dan babi-babi penari. Tujuannya adalah untuk mengajarkan kepada lima anak ini, lima hal penting dalam kehidupan mereka. Yaitu, tidak berkelahi, saling membagi, saling menolong, berani, dan saling mempercayai.

Emma Thompson memerankan Nanny McPhee kedua kalinya. Film pertama dibuat pada tahun 2005 dan Kirk Jones adalah regisurnya. Pada film pertama berhasil ditunjukkan peran seorang nanny, didukung dengan kekuatan gaib. Inti cerita berhasil ditonjolkan dan sampai kepada penonton, tanpa mendramatiskan adegan-adegan kekuatan gaib. Meskipun cukup banyak adegan sihirnya tetapi semua adegannya luwes dan berdosis. Demikian juga pesan moral untuk penonton dan cerita humornya seimbang, sehingga penonton mendapat kesan yang luar biasa.

Sementara film Nanny McPhee kedua regisurnya diambil-alih oleh Susanna White dan Emma Thompson berperan sama seperti cerita pertama. Sayang sekali pada film ini kekuatan gaibnya lebih mendominasi kesuluruhan cerita. Jadi cerita inti hilang tertutup dengan adegan-adegan lucu, seperti guntingan klip video yang terpotong-potong, meskipun hal ini membuat penonton terbahak-bahak. Demikian juga beberapa pemain pendukung hanya mempunyai kwalitas pemain drama dalam sinetron bersambung pada sebuah TV. Hal ini berbeda sekali dengan film yang pertama.

Meskipun demikian film ini yang mempunyai gurauan kasar, histeris dan tidak masuk akal dengan jeritan-jeritan yang seharusnya tidak dibutuhkan ini, berhasil menarik perhatian dan menghibur anak-anak. Sayang sekali kesan dan pesan moral untuk anak-anak tentang kelima hal seperti yang telah disebutkan di atas terbang bersama babi-babi yang menari di udara, lenyap dan tenggelam di dalam danau ketika babi-babi itu berenang di telaga.

Singkatnya film ini adalah sebuah film hiburan untuk anak-anak dan kewajiban orang tua menjelaskan inti dari cerita tersebut dengan menekankan pesan moral sehingga anak-anak memahami dan mengerti cerita keseluruhan.

Antara Nijmegen dan Utrecht

Siang itu salju turun berat. Langit kelabu, suhu udara begitu dingin sepuluh derajat celsius di bawah nol, membekukan segala air di alam terbuka yang berada di Negeri tulip Belanda. Dingin yang menggigit, menembus mantel dan menusuk pori-pori kulit Jeroen. Jeroen laki-laki berumur 40 tahun dan sukses di bisnis informatika merapatkan krag mantel berwarna hitamnya, berusaha melindungi leher dari dingin yang sungguh terlalu. Dibukanya pintu mobil untuk Fleur, istri yang anggun dan masih cantik meskipun sudah berumur 35 tahun. Hanya saja lengkukan pinggang body gitarnya mulai tertutup dengan 14 minggu kehamilan. Perlahan stasion wagen berwarna hitam dari Ford Mondeo itu meluncur, meninggalkan tempat parkir rumah sakit Canisius Wilhelmina Nijmegen menuju rumah mereka di Utrecht.

Jeroen menambah kecepatan mobil baru itu yang ia tukar dengan mobil sport kesayangannya. Ia ingin segala keperluan bayi mulai dari kereta bayi, camping bed, hingga selimut, kelak dapat di tampung di bagasi yang cukup luas. Sekilas ia melirik Fleur yang menggigit bibir berusaha menahan isakan, sementara air mata wanita berambut pirang itu tak henti mengalir membasahi pipinya yang halus. Dihelanya nafas panjang ketika fikiran laki-laki itu tak mampu beralih apa yang dikatakan dokter Marijke van Klooster beberapa menit yang lalu.

“Hasil dari triple test echo yang ke dua ini juga memperlihatkan tebal lapisan cairan di bawah kulit leher belakang lebih dari 5,5 milimeter. Demikian juga hasil penelitian darah dan air ketuban. Dari hasil pemeriksaan ini, saya menyimpulkan bahwa 95% bayi ini, akan lahir dengan downsyndroom dalam kadar yang parah,” papar dokter ahli kandungan yang terkenal di Belanda itu. "Sementara dari hasil echo organ tubuh, tampak bahwa pertumbuhan jantungnya tidak sempurna sehingga setelah bayi ini lahir diperlukan beberapa operasi jantung,” lanjutnya setelah menarik nafas panjang.

“Jeroen,” suara Fleur yang parau itu membubarkan lamunannya. Laki-laki itu menoleh ke arah Fleur sebentar. Tangan kiri Jeroen memeggang setir mobil sementara tangan kanannya memegang tangannya Fleur yang halus dengan cat kuku berwarna merah tua. Tangan wanita belahan jiwanya itu dingin seperti es. “Operasi jantung untuk bayi downsyndrom,” guman Fleur gemetar dan nafasnya sesak, masih tidak percaya.

“Dokter Marijke belum bisa menentukan berapa jumlah operasi yang dibutuhkan untuk bayi kita. Dari pengalaman kasus yang terjadi pada bayi dengan downsyndroom dan komplikasi jantung seperti kasus bayi kita, dibutuhkan operasi jantung ketika baru lahir kemudian setelah tiga bulan, lalu setelah umur satu tahun dan selanjutnya mereka harus melihat perkembangan jantungnya, bisa jadi dibutuhkan 5 operasi,” kata Jeroen lagi tanpa memandang Fleur. Matanya memandang papan biru di atas jalan yang menunjukkan ke arah Utecht 70 km lagi.

Bayangan bayi mungil dan tak berdaya yang baru lahir berkelabat di benak Jeroen. Dalam lubang hidung bayi itu tertancap dua selang dan pada setiap nadi di tangan mungilnya penuh jarum bius. Bayi itu terbaring di atas meja operasi. Di atasnya lampu besar menggantung. Beberapa dokter berdiri melingkari bayi itu dengan jubah dan penutup hidup berwarna biru. Mereka memegang pisau dan gunting untuk mengoperasi jantungnya.

“Ini tidak benar, Jeroen. Katakan padaku bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk,” Fleur memohon, suara tangisannya meledak. Jeroen meremas tangan istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan diam seribu bahasa.

“Dari Echo pertama, kita sudah mempersiapkan diri untuk menerima bahwa bayi ini akan lahir dengan downsyndroom tetapi tidak dengan komplikasi jantung,” kata Fleur lagi dengan memandang wajah Jeroen yang ganteng itu dari bagian samping.

Pandanganan istrinya yang penuh kesedihan dan kekecewaan bagaikan pisau tumpul mencabik-cabik hatinya. Kepiluan yang amat dalam bagi seorang suami dan calon ayah yang selalu berjuang untuk kebahagiaan keluarganya.

Jeroen melirik sebuah amplop besar di pangkuan istrinya. Di telinga Jeroen masih terngiang-ngiang percakapan dokter Marijke dan istrinya ketika dokter setengah baya itu menyerahkan amplop, “Maafkan Saya karena harus menyampaikan berita buruk ini kepada Kalian. Di sini beberapa brosur informasi mengenai downsyndroom dengan komplikasi jantung. Juga beberapa alamat psikologi atau pekerja sosial yang akan mendampingi kalian jika kalian memutuskan untuk meneruskan kehamilan atau mungkin juga jika kalian memutuskan untuk tidak meneruskan kehamilan ini,”

“Apa maksudmu dengan tidak meneruskan kehamilanku?” Fleur memotong kata-kata dokter itu dan memandang dengan pandangan tajam, "Aku tidak akan menggugurkan bayi ini!"

“Pertimbangkan baik-baik, putuskan apa yang terbaik buat kalian. Minggu depan kita akan bertemu lagi. Kita bicarakan langkah selanjutnya. Kami tim dokter Nijmegen akan mendukung apapun putusan kalian.” katanya lagi.

Jeroen mengedip-mengedipkan matanya yang mulai buram dan berusaha mengkonsentrasikan pikirannya ke jalan cepat aspal yang licin itu. Ia mendorong kopling dengan kaki kanan dan mengendorkan kaki kirinya untuk mengurangi kecepatan mobil itu dari 100 ke 80 km. Tangan laki-laki itu memindahkan gigi mobil dari lima ke empat.

“Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur membisik. Jeroen hanya mengangguk dan diam seribu bahasa, hanya tangan kekar itu melepaskan gigi mobil dan kembali menggenggam tangan wanita berambut pirang biru di sebelahnya.

“Jeroen, Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur lagi, suara Fleur mengeras, dan sudut matanya berair. “Kita bisa melakukan ini berdua, merawat bayi kita. Apapun yang terjadi. Setelah 15 tahun aku berusaha untuk hamil! Setelah segala usaha yang kutempuh selama ini dan sekarang menggugurkan bayi ini, karena bayi ini cacat," wanita itu mengambil napas dalam-dalam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan melakukan ini!” kata Fleur berapi-api.

Padang rumput tanah pertanian di sebelah kiri dan kanan jalan A 73 yang dulu berwarna hijau terselimuti salju tebal. Pandangan Jeroen menuju ke depan ke arah lapisan putih di atas jalan, kadang-kadang ia memandang Fleur yang diam seribu bahasa dengan sudut mata kirinya. Sementara tangan kanan laki-laki bermata hijau keabu-abuan dan berambut kecoklatan memegang setir dan tangan kanannya masih memegang tangan kiri Fleur.

Di benaknya menari-nari bayangan anak kecil laki-laki penderita downsyndroom dengan kaki model-X. Muka gepeng, mata sipit melengkung, hidung pesek, mulut mungil tetapi selalu terbuka sementara lidahnya terlalu besar untuk ukuran mulut semungil itu, dan tangan yang bengkok. Gambaran anak itu tidak hanya hanya cacat fisik tetapi juga cacat intelektual dan dilengkapi penyakit jantung dan autism yang akan membuntuti kehidupan anak itu. Dalam hatinya ia berkata, "Bisakah aku mencintai anak ini?"

Di bayangannya ia menggendong anak kecil berdada rempeng, beberapa garis bekas jahitan operasi jantung meninggalkan bekas luka panjang. Mata anak itu bening tanpa dosa, memandang ke arahnya tanpa arti. Jeroen mengelus kepalanya kemudian mencium kening anak itu tetapi anak itu tidak bereaksi. Pandangan mata itu hampa, jiwa anak itu terkurung dalam tubuh yang lemah dan kecerdasannya terbelunggu di sebuah dunia lain.

“Aku tak perduli dengan kekurangan anak ini. Ini adalah anakku, darah dagingku. Aku akan mencintai anak ini meskipun anak ini tidak merasakan kehadiranku!” Jeroen bicara pada dirinya sendiri. Matanya memandang satu titik temu di jalan panjang, kakinya menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobil hitam itu.

Jeroen membayangkan saat ia dan istrinya berumur 70 tahun, tertatih-tatih mendorong kursi roda yang diduduki seorang laki-laki dewasa dengan celana yang dilapisi pampers sementara ribuan mata memandang aneh dan kasihan kepada mereka. Lalu beberapa anak kecil memanggil-manggil, ”He, lihat! Mongolia idiot! Mongolia idiot! Mongolia idiot!” Anak-anak itu menunjuk-nunjuk ke muka lemah itu.

"Bisakah aku melindungi anak ini dari dunia yang keras ini?" tanyanya lagi dalam hati.

Jeroen tidak berhasil membendung airmatanya, meskipun ia berusaha menahan dan menggigit bibir bawah dengan keras. Di dalam pikirannya gambaran anak itu tumbuh menjadi seorang dewasa dan masih terpenjara dalam sebuah tubuh lemah dan terikat dalam waktu tanpa akhir. Laki-laki itu pada akhirnya sendiri tanpa daya, tergantung pada orang lain di sekelilingnya. Tidak ada lagi seorang ayah dan ibu tua yang melindungi, merawat, dan mendorong kursi roda itu karena orang tua yang bernama Jeroen dan Fleur telah pergi menghadap yang kuasa dan meninggalkan laki-laki berumur, di dunianya, di atas kursi roda itu.

Jeroen tersentak oleh lamunannya.

“Aku tidak bisa…,” katanya dalam hati.
“Apa maksudmu tidak bisa?” tanya Jeroen pada dirinya.
“Aku tidak mampu menjadi Ayah untuk anak ini, aku tidak ingin anakku lahir dan kemudian memenjarakan di dalam tubuhnya yang lemah. Aku ingin membebaskan jiwa anakku untuk tidak lahir di dunia yang keras ini," kata Jeroen pada dirinya lagi.
“Tuhan ampuni aku!” Jeroen menelan ludahnya dan memandang sebelah kanan muka istri terkasih yang juga diam dalam lamunan.
“Aku menginginkan seorang anak, tetapi..tetapi, aku tidak ingin mempunyai seorang anak dengan kondisi cacat seperti itu,” katanya dalam hati sambil menginjak gas mobil lebih kencang. Kecepatan mobilnya bertambah menjadi 110 km di atas jalan licin.
“Begitu egoisnya aku menginginkan dan membiarkan anak ini lahir. Sementara aku tahu bahwa anak ini tidak bisa menikmati keindahan dan kehidupan di dunia ini karena keterbatasannya!” teriak laki-laki itu pada dirinya lagi.
“God verdomme! Nee...,nee...,nee...!” seru Jeroen terkejut dengan pikiran jeleknya.

Ia tidak sadar membanting setir mobil dan kemudian mengerem mobil itu dengan satu injakan kaki. Namun jalan aspal sebelum belokan ke jalan cepat menuju Utrecht yang dilapisi serbukan salju tebal itu, membuat mobil itu kehilangan keseimbangan, tergelincir, memutar 180 derajat, dan berhenti di tengah jalan. Dari arah belakang, sebuah trek gandeng yang melaju keras dengan kencang berusaha mengerem tetapi tak kuasa menghindarinya.


Sumber cerita: Khayalan penulis tetapi informasi tentang downsyndroom dari melihat langsung anak-anak penderita downsyndroom.
Posted by Dewi Ambarwati

maandag 15 maart 2010

Eropa, Tanah Impian Gadis-gadis Nigeria

Malam itu begitu gelap-gulita tanpa sedikit pun cahaya bulan dan bintang yang menyinari kota Benin City. Hanya beberapa obor yang menerangi tempat itu. Joy, gadis berkulit hitam dan berambut kribo, berdiri dengan gemetar di muka altar kecil. Matanya tertutup dengan kain putih yang kumal.

Sebuah kuali berisi beberapa silet, potongan kuku, potongan rambut dan bercak darah menstruasinya terletak di atas altar, diapit dengan kepala kucing yang dikeringkan, tengkorak anjing dan beberapa tikus hangus.

Seorang pendeta juju dengan pakaian adat Afrika dari bahan tenun berwarna merah memulai upacara. Ia membuat lingkaran besar yang mengelilingi badannya dari kapur tulis. Kemudian pemimpin kepercayaan primitif itu menggambari di tengah lingkaran dengan beberapa simbol. Lalu ia mengangkat dua tangannya dan memandang ke langit sambil mengucapkan mantra dengan melodi menyayat yang berganti-ganti ritme, dari tinggi kemudian rendah sambil menari dengan gerakan yang kaku. Kadang laki-laki itu menghentakkan kakinya. Sementara beberapa kendang dipukul keras bertalu-talu mengikuti irama kaki laki-laki itu.

Seorang asisten memasuki lingkaran untuk membedaki mukanya dan menyerahkan seekor ayam jantan hidup. Pendeta itu menerimanya lalu memutar kepala ayam dengan sekali gerakan yang sangat kasar sampai kepala ayam itu terpenggal, lalu memasukkan kepala ayam di atas kuali. Kemudian dengan tangannya, merobek dada ayam untuk merenggut hatinya. Ia memasukkan hati ayam yang masih mentah dan berdarah itu ke mulut, lalu mengunyahnya. Asistennya mengambil badan binatang itu, lalu memasukkan tetesan darah itu ke kuali dan membakar bersama bulu-bulunya dengan obor. Begitulah pembukaan upacara bagi gadis Nigeria sebelum meninggalkan negeri itu untuk mengadu keberuntungan di Eropa, tanah impian.

Nigeria adalah negara miskin. Salah satu cara untuk merubah kehidupan yaitu dengan mencari pekerjaan ke Eropa. Melalui seorang makelar gadis-gadis Nigeria ini menemukan jalan untuk merubah nasib.

Sementara untuk mengurus segala dokumen yang dibutuhkan dan biaya transportasi, mereka membutuhkan uang sejumlah 10.000-20.000 Euro. Para makelar ini pun bersedia meminjami uang terlebih dahulu. Setelah berada di Eropa, mereka wajib mencicil. Syaratnya sebelum berangkat, gadis-gadis ini harus mengikat perjanjian hutang-piutang dengan sebuah upacara juju.

Pada kenyataannya sampai di Eropa para wanita remaja ini diperdagangkan. Mereka dijual dan dibawa ke Belanda, Perancis, Belgia, Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia dan negara bagian Eropa lainnya, selanjutnya dipekerjakan di rumah prostitusi. Hasil yang didapatkan harus disetorkan ke seorang madam.

Pengalaman yang dialami oleh Susan (18 tahun) di Perancis, ia harus bekerja sebagai prostitusi di jalanan. Ia melakukan itu terkadang 24 jam dan hasilnya harus disetorkam kepada Madam untuk mencicil hutang-hutang. Malahan salah satu temannya lumpuh akibat kekerasan seorang pelanggan. Sementara Susan juga pernah hamil, tetapi Nyonya atau Madam yang berfungsi sebagai bos itu, memukul dan menghatam perutnya sehingga bayi di kandungan gugur.

Susan dan beratus-ratus gadis dari Nigeria diperbudak di dunia prostitusi, tidak berani melarikan diri. Mereka lebih memilih menderita sebagai budak seks dari pada mendapat kutukan dari juju. Hal ini disebabkan karena kepercayaan yang kuat terhadap juju yang di wariskan dari leluhur berabad-abad.

Peristiwa ini sangat menghebohkan masyarakat Eropa ketika pada bulan Oktober 2007 polisi membebaskan 140 gadis Nigeria yang terkurung di balik terali. Mereka tenyata telah bertahun-tahun terkurung sebagai budak seks dengan kondisi fisik dan psikologi yang sangat memprihatinkan. Di rumah penampungan di Zwolle-Belanda gadis-gadis ini ditampung dan pada akhirnya dikembalikan lagi ke negara asalnya setelah mendapatkan pertolongan dari para dokter dan psikologi.

Pada akhir tahun 2007, Departemen Kehakiman Belanda berhasil menangkap sebelas tersangka, mereka adalah sindikat yang memperdagangkan gadis-gadis Nigeria yang bekerja sama dengan sindikat-sindikat dari beberapa negara Eropa lainnya. Selain itu para anggota kriminal ini bekerja sama dengan para pendeta juju dari Nigeria.

Seperti yang diberitakan oleh Veronica TV Belanda pada tanggal 1 Maret 2010, ternyata masih banyak gadis dari Nigeria yang mempersiapkan diri pergi ke Eropa, sementara dari mereka mengetahui bahwa banyak gadis menjadi korban dan kembali dengan kondisi yang menyedihkan.

Malam semakin larut di Benin City. Pendeta itu keluar dari lingkaran kapur dan meminum isi kuali. Lalu melangkahkan kaki ke arah Joy yang masih berdiri kaku. Jantung gadis belia itu berdetak, badannya semakin menggigil. Pendeta itu melepaskan kain putih kumal dari wajahnya. Kemudian menyemprot darah ayam yang berada di kuali ke wajah gadis hitam itu dengan mulutnya, sambil menyerukan: "God is watching you! You must pay the money back! Dont run way! The spirit is following you until you die!"

Joy cuma mengangguk. Dia yakin tidak bakal bisa lepas dari kekuatan gaib yang akan mengikutinya. Itu berarti setiba di Eropa dia harus segera melunasi hutang-hutangnya. Kalau tidak, dia bisa bernasib seperti ayam jantan yang terpenggal kepala dengan dada yang robek, hati tercabut dan terbakar.

maandag 8 februari 2010

Olahraga Lari untuk Wanita 30 plus

Perasaan capek, letih dan lesu yang diikuti masalah susah tidur dan akhirnya uring-uringan. Lebih-lebih dengan perubahan cuaca serta polusi udara, maka badan pun tidak mau di ajak berkompromi. Akhirnya sakit kepala, deman dan pilek. Yang lebih menyebalkan jika umur sudah mencapai 30 plus, ukuran baju pun naik ke dua nomer ke atas. Mungkin saat masih remaja memakai ukuran S dan setelah umur 30 memakai ukuran XL, itupun susah masuknya. Lebih-lebih kalau sudah pernah melahirkan anak, maka masalah kegemukan tidak bisa dihindari. Jika masalah-masalah ini terus menerus maka akan mengakibatkan gairah hidup yang rendah dan pada puncaknya depresi.


 

Masalah ini bisa terhindar jika kondisi fisik dan daya tahan tubuh tinggi. Ini bisa dicapai jika badan cukup bergerak atau berolahraga secara teratur. Ibarat seperti motor jika tidak dipakai maka akan berkarat, demikian juga dengan tubuh manusia. Salah satu olahraga yang paling mudah dan murah untuk wanita 30 plus adalah olahraga lari atau jogging. Beberapa keuntungan jogging untuk kesehatan badan yaitu memperkuat jantung, memperlancar peredaran darah dan pernafasan. Jogging juga memperindah bentuk badan karena membantu membakar lemak dan mengatasi kegemukan. Jika dilakukan dengan teratur dan baik maka otot kaki, paha, pinggul dan punggung mengencang. Selain itu saat mengayunkan kaki, otak memproduksi endorfin yang membuat pikiran tenang dan bahagia. Endorfin adalah satu-satunya remedi anti depresi. Banyak orang menyamakan jogging dengan obat tidur, karena setelah melakukan jogging, malamnya bisa tidur dengan nyenyak.

Beberapa alasan para wanita 30 plus tidak memilih jogging selain tidak yakin dengan kemampuan fisiknya karena iklim Indonesia yang panas yang tidak memungkinkan untuk lari setiap saat. Selain itu jogging kurang membudaya untuk 30 plus, mereka merasa kaku, canggung dan malu. Lebih-lebih karena kesibukan pekerjaan, urusan rumah tangga dan masalah anak-anak sehingga hal ini menjadi alasan yang kuat untuk tidak melakukannya.

Jika Anda merasa canggung untuk lari sendiri, maka sebaiknya mengajak saudara, tetangga atau teman untuk berlari bersama. Mungkin sangat bagus melakukannya bersama pasangan Anda di akhir pekan. Mungkin hal ini juga akan menambah kemesraan hubungan Anda dan pasangan Anda. Selain itu keuntungannya jika lari bersama saling memotivasi sehingga olahraga ini tidak memberatkan dan membosankan karena saat itu Anda bisa sambil berkontak sosial.

Karena iklim Indonesia yang panas maka sebaiknya melakukan olahraga ini pagi hari, mungkin setelah sholat subuh, sebelum pergi bekerja atau setelah mengantarkan anak-anak dari sekolah. Dan jika Anda pada pagi hari terlalu sibuk maka bisa dilakukannya pada sore hari setelah terik matahari mulai menurun atau pada jam empat sore, setelah sembahyang azar.

Jogging bisa dilakukan di alam terbuka. Anda bisa melakukan di sekitar blok perumahan, di pematang sawah, di pantai, di jalan dekat sungai atau di taman dekat monas. Saat berlari Anda merasakan kelembutan angin, mendengar suara kicauan burung, suara ombak dan suara air yang mengalir. Tapi jika Anda tinggal di daerah yang bising maka Anda bisa menutup telinga Anda dengan earphone atau MP3 dan mendengarkan musik saat jogging.

Jika Andai memulai harus memakai sepatu khusus untuk lari, karena pada sepatu ini mempunyai shock absorbing soles. Ini dibutuhkan untuk menopang tubuh ketika lari. Sehingga tidak mengakibatkan keluhan pada punggung. Jika Anda membeli sepatu khusus untuk lari harus berukuran setengah sentimeter lebih besar dari ukuran sepatu yang normal Anda pakai. Sebab saat Anda menjatuhkan kaki di tanah, kaki Anda membutuhkan ektra ruangan di sepatu.

Jogging akan mendapatkan hasil yang bagus jika dilakukan 2-3 kali seminggu dan untuk setiap kali minimal setengah jam melakukakannya karena jika hanya setengah jam hanya berguna untuk kondisi fisik tubuh saja. Tetapi jika Anda ingin membakar lemak pada tubuh Anda, membutuhkan waktu sekitar satu jam. Untuk jogging setengah jam bisa Anda capai 4- 5 km dan 10 km sekitar satu sampai satu setengah jam.

Lalu bagaimana mencapai jarak 5 km untuk setengah jam, lebih-lebih 10 km untuk satu jam jika Anda belum pernah berlari? Untuk memulainya lebih baik Anda mengambil jarak 5 km untuk 45 menit. Ini bisa dicapai setelah latihan 2-3 kali seminggu secara teratur selama sepuluh minggu. Pada latihan minggu pertama sampai minggu kelima, berlarilah dengan lambat diselingi jalan cepat selama 30 menit. Pada minggu kelima sampai kesepuluh, cobalah berlari tanpa diselingi jalan cepat atau berlari tanpa berhenti selama 30 atau 45 menit. Maka pada akhir minggu ke sepuluh Anda mampu menempuh jarak 5 km selama 30-45 menit. Jika ingin menaikkan target Anda ke 10 km maka cobalah berlari selama 60 menit, diselingi jalan cepat. Pada intinya jogging juga membutuhkan kesabaran. Karena jika Anda memaksakan bisa jadi badan Anda akan cedera. Jangan lupa sebelum mulai jogging harus diawali dengan warming up dan diakhiri dengan cooling down.

Pada dasarnya semua orang bisa berlari. Tetapi jika Anda tidak biasa bergerak alangkah baiknya Anda berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter. Anda mungkin memiliki masalah kesehatan, yang tidak disarankan untuk melakukan jogging. Pada awalnya lari jarak panjang tidak gampang namun ini bisa dipelajari dengan berlatih. Selain latihan modal utamanya adalah ambisi dan motivasi. Misalnya Anda harus bisa untuk berlari 5 km dalam 10 minggu. Dan ini adalah target Anda untuk bisa mencapainya.

Lalu bagaimana memotivasikan diri untuk mencintai olahraga ini? Contohnya jika ingin menguruskan badan maka Anda bisa membayangkan jika berhasil Anda bisa memakai pakaian sesuai keinginan atau membayangkan memiliki badan seperti bintang film Jennifer Lopez yang juga memilih olahraga lari. Selain itu Anda mempunyai fisik sehat, daya tahan tubuh tinggi , bisa tidur nyenyak dan tidak gampang stress atau lebih-lebih depresi.

zaterdag 6 februari 2010

Di Bawah Sayap Irene

Irene Okech wanita cantik berdarah Indonesia-Belanda lahir di Irian jaya, pendiri rumah panti asuhan Lionessubshome Kenia yang pernah mendapatkan kartu ucapan secara pribadi dari Presiden Amerika serikat Barack Obamma. Inilah hasil wawancara penulis.

Pada awalnya, tahun 1996/1997 pertama kalinya Irene berada di Kenia karena pekerjaannya. Ia melihat anak-anak berumur 5-15 tahun berkumpul di pinggir jalan sambil meminta-minta. Badan mereka kurus, mata merah dan baju mereka kotor. Beberapa dari mereka duduk sambil mengisap lem. Saat itu Irene sedang makan di rumah makan yang menyediakan kursi di luar. Anak-anak itu melambai-lambaikan tangan mereka kepadanya sambil membuat isyarat dengan memasukkan tangan mereka ke mulut dan memegang perut yang buncit karena kurang gizi. Saat itu Irene sedih menanggapinya dan berjanji pada dirinya untuk kembali ke Kenia untuk memberikan mereka rumah, memelihara dan memberikan mereka masa depan.

Pada bulan November 2001 Irene kembali lagi ke Kenia. Ia menjemput 8 anak-anak jalanan itu dan membawa mereka itu ke rumah kontrakannya. Anak-anak tersebut dimandikan dan diberi makan. Malahan ia mencuci baju-baju mereka yang sangat kotor dan bau yang dipakai bertumpuk-tumpuk dengan tangannya.

Masalah yang dihadapi Irene tidak hanya masalah biaya dan rumah yang harus berpindah-pindah, tetapi juga masalah sosial, moral dan psikologi dari 8 anak asuhnya dari jalanan. Anak-anak jalanan itu mempunyai masalah hidup yang kompleks. Mereka biasa mencuri, memeras dan kadang-kadang mereka adalah korban pelecehan sexuel. Beberapa anak-anak tersebut sudah beberapa kali masuk dan keluar penjara sehingga anak-anak ini sulit dididik dan diarahkan.

Pada akhirnya 6 anak jalanan itu meninggalkan rumah Irene. Mereka lebih memilih kembali ke dunia mereka, tetapi datang anak-anak lain yang menggantikannya. Sekarang berjumlah 17 anak, mereka adalah anak-anak yatim piatu, korban panganiayaan dan juga anak-anak penderita aids.

“ Saya tidak ingin menambah jumlah mereka. Selain rumah yang tidak besar, Saya ingin memberikan kwalitas kehidupan yang tinggi. Saya mengirim anak-anak ke sekolah swasta yang harganya 100 euro per tiga bulan. Hal ini disebabkan karena sekolah negeri di Kenia sangat jelek kwalitasnya.” katanya.

Ketika Irene dan penulis sedang asyik menikmati makan siang, Irene menerima telepon dari Ingris, bendahara dan wanita penting yang menolong panti asuhannya. Dari raut mukanya, penulis bisa melihat situasi yang mengkawatirkan. Kata Irene; “Someone must print it! I already send the document! Somebody must help us !”

"Budaya korupsi para aparat negara di Kenia juga sangatlah tinggi. Para aparat pemerintah Kenia mengancam untuk menutup panti asuhan Lionesscubhome, karena ada beberapa akte dari beberapa anak tidak lengkap dan beberapa dokumen yang kurang! Sementara saya sudah mengirim beberapa dokumen itu melalui email. Mereka tinggal memprinter. Mereka ingin mempersulit. Memang banyak anak-anak tidak mempunyai akte. Kemana saya harus mencari akte tersebut? Mereka tidak punya apa-apa dan siapa-siapa, lebih-lebih akte kelahiran. Jika ada uang cash di meja, maka semuanya akan lebih gampang,” katanya menjelaskan kepada penulis.

"Saya ingin menolong anak-anak mereka, tetapi mereka sangat mempersulit, Jika mereka ingin menutup silahkan! Asalkan mereka bisa menghidupi mereka! Mereka sudah mengancam saya untuk menutup panti asuhan ini sejak empat tahun yang terakhir,” katanya kesal.

Sekitar dua tahun lalu Irene harus kembali ke Belanda dan meninggalkan anak-anak asuhnya demi keamanannya. Hal ini disebabkan akibat perang saudara di Kenia tahun akhir 2007/2008. Kembali ke Belanda adalah sebuah perjuangan untuk Irene dan keluarganya, karena bisnis yang ia telah di perjuangkan di Kenia harus ditinggalkan. Di Belanda ia harus dimulai lagi dari nol. Irene harus mengontrak rumah kecil sementara ia harus tetap bertanggung jawab terhadap nasib anak-anak asuhnya. Dari Belanda Irene masih menyokong dan meperjuangkan nasib anak-anak asuhnya.

“Saya sangat merindukan mereka, kaki kanan saya berada di Belanda dan kaki kiri saya berada di Kenia. Ketika saya menelpon anak-anak asuh saya, anak-anak saya berbicara dengan suaranya yang manis dan manja mengatakan: “Mammi, I miss you, where is Daddy?”. Hati saya hancur mendengar suara mereka. Rasanya saya ingin merangkak melalui kabel telpon dan memeluk anak-anak saya,” katanya sedih.

donderdag 14 januari 2010

Di Puncak Piramidnya Maslow atau Bercinta dengan Tulisan

Seorang ahli psikologi, Maslow, memaparkan kebutuhan manusia dalam teori piramid. Dia menguraikan bahwa manusia berada pada level pertama ketika manusia berusaha memenuhi kebutuhan pokoknya. Manusia berada di level kedua ketika manusia mendapatkan kestabilan, kenyamanan dan ketenangan hidup. Pada level ketiga manusia memenuhi kebutuhan sosial dan emosinya karena mempunyai cukup teman, cinta kasih dan diterima di lingkungannya. Sedangkan level keempat manusia sudah mendapatkan kesuksesan, prestise dan status.

Jika seseorang sudah berada di level keempat maka hidup adalah suatu yang hampir sempurna karena dalam posisi ini seseorang sudah mempunyai status, prestise dan kesuksesan, dan itu adalah impian banyak orang. Impian saya dan impian anda. Saya yakin anda setuju dengan pendapat saya. Tapi apakah itu benar?

Jika anda mendapatkan kesuksesan, prestise dan status dalam kehidupan, apakah anda sudah puas dengan kehidupan itu? Saya yakin anda masih akan menoleh ke belakang dan mempertanyakan ke dalam diri anda apakah kehidupan anda sudah sesuai dengan yang anda inginkan? Apakah impian anda sudah tercapai? Jika belum bagaimana anda akan memperjuangkanya? Sebaiknya anda mengambil kertas dan pena, catatlah langkah-langkah apa untuk mencapainya. Mungkin dalam lima tahun mendatang anda mencapainya. Jika anda mempunyai dilema seperti ini maka anda sedang berada di puncak piramid Maslow dan saat ini anda akan berada di level kelima. Karena menurut Maslow manusia berada di puncak piramidnya ketika mencapai segala impiannya.

Jika saya mengamati selama 15 tahun kehidupan beberapa teman di sekeliling, maka saya melihat tahap-tahap perjuangan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Perjuangan mereka setelah menyelesaikan bangku kuliah untuk mendapatkan pekerjaan, lalu perjuangan untuk membeli rumah beserta isinya dan mobil, perjuangan untuk mempunyai anak dan mendidiknya, perjuangan untuk membangun kontak sosial dengan sekelilingnya dan kemudian perjuangan untuk menuju kesuksesan, prestise dan status. Pada akhirnya perjuangan itu tercapai. Mereka mempunyai pasangan hidup yang mereka pilih, punya anak yang sehat, rumah, mobil yang bagus, dan pekerjaan yang stabil. Pada musim dingin mereka pergi ke pegunungan Alpen di Perancis untuk bermain ski dan pada musim panas pergi ke Afrika-Selatan atau pergi ke pantai-pantai di Asia untuk berjemur. Sementara pada musim gugur pergi ke Milan untuk membeli koleksi baju musim dingin, sementara di musim semi pergi ke New York untuk membeli baju musim panas.

Jika saya menempatkan kehidupan mereka di piramidnya Maslow tentang kebutuhan manusia, maka saya akan menyimpulkan bahwa rata-rata kebutuhan kehidupan mereka sudah menduduki level keempat.

Kenalan saya, sebut saja si "A", bekerja di Rabo Bank—salah satu top manager Rabo Bank—mempunyai gaji tinggi dan mempunyai posisi yang terhormat, anak yang sehat, istri cantik, rumah dan mobil bagus dan selalu berlibur ke mana-mana. Menceritakan bahwa dia sudah bosan dengan pekerjaannya. Saat ini sedang berorientasi untuk mencari pekerjaan yang lain. Sementara pekerjaan yang lain tersebut gajinya lebih rendah tetapi dia akan lebih berbahagia dengan pekerjaannya yang baru. Uang bukan segalanya dalam hidup ini, katanya.

Hal itu juga terjadi dengan teman saya yang lain, seorang engineer dan ia bekerja di DHV, sebuah perusahaan kontraktor di Belanda yang mempunyai banyak klient di Indonesia, dan suatu hari ia pulang ke rumah dan menceritakan kepada istrinya bahwa ia ingin keluar dari pekerjaannya dan ingin mengembalikan BMWnya ke kantornya kemudian dia ingin melamar menjadi seorang koki di sebuah restaurant, karena pekerjaan ini adalah impiannya sejak kecil.

Satu lagi teman perempuan saya, bekerja sebagai account manager, mempunyai gaji yang tinggi dan mendapatkan mobil bagus dari perusahaannya. Suatu hari ia memutuskan untuk melepaskan pekerjaannya dan memilih untuk kuliah lagi agar bisa menjadi guru sekolah dasar.

Mungkin anda juga pernah membaca novel fenomenal Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi. Salah satu anggotanya yang bernama Sahdan, dengan kehidupan yang sangat miskin saat masa kecilnya, berjuang mati-matian untuk bisa hidup layak dan hampir menjadi gelandangan di Jakarta kemudian mengikuti kursus komputer dan mendapatkan pekerjaan di IT. Malahan keberuntungan terus menyirami kehidupan Sahdan karena dia memperoleh beasiswa "short course" di bidang network computer di Kyoto University. Maka Sahdan seperti kata-kata Andrea Hirata, "Sahdan, pria liliput putra orang Melayu, nelayan, jebolan sekolah gudang kopra Muhammadiyah telah menduduki posisi sebagai Information Technology Manager di sebuah perusahaan multinasional terkemuka yang berkantor di Tanggerang!" Tetapi ia masih bermimpi menjadi seorang aktor!

Coba bayangkankan saja, berapa juta orang memimpikan kehidupan tersebut? Bekerja dengan posisi di puncak dan mempunyai segalanya dan menukar dengan pekerjaan lain yang lebih rendah dengan gaji yang lebih kecil? Mungkin mereka benar. Mencari pekerjaan bukan karena uang tetapi seseorang mencari pekerjaan karena menyukai pekerjaan tersebut dan pekerjaan itu adalah impiannya.

Jika saya menganalisa kehidupan saya akhir tahun 2002- 2009 lalu, saya mempunyai perusahaan, "Dewi Cooking Event and Team Building Course" yang mengorganisasi kursus memasak untuk ibu-ibu, karyawan perusahaan, mengorganisasi pesta makan malam dan memberi kursus team buliding. Perusahaan ini juga terdaftar di KVK Belanda sebagai perusahaan resmi meskipun saya mengerjakan secara partime. Sebenarnya pekerjaan ini menyenangkan dan saya bisa berkontak sosial dengan banyak orang sehingga saya tidak hanya berposisi sebagai ibu. Dengan hasil ini saya bisa memenuhi kebutuhan saya sebagai wanita dengan tetek bengeknya tanpa minta uang dari suami.

Namun demikian, jika saya jujur, dalam kehidupan saya ada sesuatu yang kosong. Ada sesuatu yang belum terpenuhi dan tercapai. Tetapi anda jangan salah menafsirkan kalimat saya ini, karena pada kenyataannya saya bahagia dengan suami dan anak-anak saya. Ibu, kakak-kakak dan teman-teman saya di Indonesia mengatakan bahwa saya harus mensyukuri dan menikmati kehidupan saya. Dan itu sudah cukup!

Tetapi kekosongan ini membuat kehidupan saya tidak lengkap. Seperti puzzel yang hilang satu bagian. Dan bagian puzzel yang hilang ini adalah impian dan cita-cita saya saat saya masih kecil untuk menjadi seorang penulis dan menjadi wartawati. Dan saya akan mencari puzzel ini untuk melengkapi puzzel kehidupan saya. Mungkin sangat berat buat saya karena saya mempunyai tiga anak yang masih kecil, mengurus rumah tanpa pembantu, mempunyai segudang kegiatan sosial serta banyak menghabiskan waktu untuk berolahraga, sementara suami harus bekerja keras karena mempunyai perusahaan sendiri. Sementara saya ingin menjadi penulis tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Belanda. Untuk mencapai cita-cita saya ini, bulan September saya akan kuliah di Deeltijd Opleiding HBO-Communicatie Amsterdam. Untuk persyaratan memasuki fakultas ini saya harus mempunyai pengalaman menulis. Sementara saya tidak mempunyai pengalaman tersebut. Untuk tujuan itu saya mengikuti beberapa kursus menulis, yaitu dalam bahasa Indonesia melalu Harian Online Kabar Indonesia (HOKI), bahasa Belanda di Jamesboswel Institut Universitas Utrecht dan pada bulan Februari mulai juga kursus menulis dalam bahasa Inggris. Malam ini saya menulis tugas dari HOKI sampai jam dua malam dan besok pagi setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan beres-beres rumah, saya harus menulis tugas lain dalam bahasa Belanda. Sebenarnya berat juga buat saya, tetapi ini adalah impian saya dan saya memendamnya lebih dari 25 tahun.

Saya sangat beruntung mengikuti kursus ini karena biayanya sangat murah dan saya mendapat bimbingan yang sangat bagus dan profesional. Terus terang ketika saya menerima tugas dari HOKI untuk menulis, jantung saya berdetak, dan ketika jari-jari saya menekan toets computer untuk menyusun kalimat, saat itu pikiran, perasaan dan jari-jari bersatu seperti "sedang bercinta". Waktu yang berjam-jam saat saya menulis sepertinya berhenti dan perasaan passie dan gejolak di dada seperti ketika saya menulis ini tidak saya pernah alami ketika saya memberi kursus memasak atau saat saya sedang mengorganisasi makan malam sebuah perusahaan. Karena perasaan yang saya rasakan saat itu hanyalah bekerja untuk mendapatkan uang.

Maka saya tidak bisa membayangkan kenikmatan apa yang mereka dapat saat para penulis terkenal seperti Tatiana de Rosnay, Isabel Allende, John Irving, Khaled Hosseini, Leon de Winter, Carlos Ruiz Zavón, dan Elizabeth Gilbert sedang menulis karya besar mereka. Mungkin perasaan saat mereka menulis seperti sedang menari di surga dan bercinta dengan para Dewa dan Dewi. Perasaan inilah yang saya ingin dapatkan dalam bidang tulis-menulis dan ini motivasi pertama saya untuk ingin menjadi penulis, yaitu "bercinta dengan tulisan!"

Jika Maslows masih hidup saya tidak tahu ke mana ia akan menerapkan tentang teorinya dalam kehidupan saya. Lalu bagaimana pula dengan anda? Di level manakah kehidupan anda jika anda menerapkan teori-teori Maslow? Bagaimana cara anda ingin mencapainya? Tentu, anda pula yang tahu jawabannya. []

vrijdag 8 januari 2010

Mijn dochter

Over 25 jaar vieren we 27ste jaar verjaardag van jou. Ik denk dat je al klaar met je studie bent en hebt een baan en je wordt volwassen vrouw en misschien ben je al getrouwd met je droom prins. Volgens mij wordt je ook een fantastische moeder met lieve kinderen die me oma gaan roepen.
Mijn dochter…, Ik weet dat je niet van mijn eigen vlees en bloed bent maar je bent mijn hart. Ik heb je geadopteerd uit Indonesië toen mijn man en ik daar hadden gewoond. Ik weet het niet zeker of ik de term van adoptie mag gebruiken. We wouden graag zelf kinderen maar het was onmogelijk. We hebben geprobeerd maar zonder resultaat. Uiteindelijk hebben we het opgegeven.
Het was de eerste maand toen we in Jakarta waren. Je vader had een baan als consultant in Jakarta. Daar had ik je biologisch moeder ontmoet. Ze was nog jong en zocht een baan. Omdat we een expat in Indonesië waren, waren we verplicht om een dienstmeid en chauffeur nemen en we hebben je moeder in dienst genomen als ons bediende.
We hadden elke weekend een feest en kwamen er veel expats naar ons toe. Je moeder hielp me tijdens het feest met drinken en hapjes rond brengen. Veel gasten van mij waren gek op je moeder. Je moeder was een prachtig vrouw met gele huid, bruine ogen en zwarthaar als ebbenhout heeft.
Drie maanden later op een dag was je moeder ziek. Ze ging overgeven en hele dag misselijk en blijkbaar dat ze zwanger was en ze wou het weghalen. Ze wou ook niet vertelen wie de vader van het kind was maar ik wist dat ze zwanger was geraakt met een van de expat die bij ons op feest waren. Ik had haar gesmeek om het niet te doen omdat ik het kind voor me wilde houden. Uiteindelijk had ze het ingestemd.
Mijn dochter..mijn voorstel was zodra het kind geboren was, werd ik de moeder. Tijdens haar zwangerschap ging ze in haar dorp van haar oma woonden. Tussen tijd deed ik voor dat ik zwanger was. Mijn familie in Suriname en mijn vrienden in Nederland wisten dat ik zwanger was. Ik weet dat ik tegen iedereen en de wet heeft gelogen maar ik kon niet anders. Ik wou dat ik via gewone weg je kon adopteren. Maar de Indonesische regering had onmogelijk gemaakt. Sinds 1980 verbied de overheid adoptie. De Indonesische overheid vond dat ze de wezenkinderen zelf kan zorgen. Ze vond dat Indonesische kinderen laten adopteren een slecht imago gaf aan hun land. Geloof mij…dat er zoveel Indonesische kinderen op de straat leefden onder slecht conditie.
Mijn dochter…,ik liep maanden rond met een kussen onder mijn jurk. Iedereen feliciteerde met mijn zwangerschap en geloofde in dat ik zwanger was en ik voelde me dat ik zwanger was. Mijn man kon het niet in een leugen leven daardoor heeft hij mij in steek gelaten.
Mijn dochter….,Je bent nu twee jaar oud. Ik ben gelukkig met jou en ik wil alles voor je doen. Je bent van mij en niemand kan ons scheiden tot mijn dood……………

donderdag 7 januari 2010

Het Picknicken

Het is prachtig weer! De zon schijnt, de lucht is helderblauw en de temperatuur is zo aangenaam. Ik voel warmte in mijn lichaam. Ik hoor de vogels zingen en ik voel de aanraking van de wind in mijn gezicht. Het is hier zo aangenaam maar ik voel me zo leeg. Leeg, boos en verdrietig!

Onze picnicktafel verschuilt zich achter de schaduw van de eikenboom. Onder de eikenboom is onze plek waar we elkaar de eerste keer ontmoetten en de eikenboom was onze enige toeschouwer toen je me ten huwelijk vroeg. Het was 25 jaar geleden. Zou deze plek ook een afscheidsplek voor ons zijn?

Ik sta aan de afgrond en ik heb mijn handen achter mijn rug. Ik zie beneden onder mijn voet een diep ravijn. Ik voel een trilling van angst. Mijn handen zijn opeens heel koud. Ik zie vanuit mijn linkerooghoek je schaduw. Je leunt tegen je auto. Ik ken je heel goed, van top tot teen. Ik kan je gedachten lezen. Je wilt verder gaan met het mens maar ik zit in de weg. Je wilt ons geld voor jezelf en je minnares houden en je wilt me in het ravijn duwen? Nee schat, als je dat doet, dan buig ik naar voren. Dan ga je maar alleen in het ravijn!

In de ham proef je in de verte het wuivende graan

Dirk Cornelis, producent Ganda ham,

In 1980 heeft Dirk Cornelis het familiebedrijf overgenomen nadat zijn moeder was overleden en zijn vader wou ermee stoppen. Daarvoor was het een slagerijbedrijf, daarna het groeide en werd het een vleeswarenbedrijf. Het had toen al 20 medewerkers. In de eerste instantie wilde Dirk het familiebedrijf niet overnemen omdat hij vond dat dat zwaar werk was. Hij ging in de plichtdienst en af en toe had hij klussen. Later zag hij er toch een toekomst in.
Dirk is van jongs af al creatief. Hij maakte een volle schotel gebraad en binnen tien minuten was die verkocht. Hij kreeg er veel complimenten voor van hun klanten. Hij ging vaak met zijn vader mee naar de slagerij. Daar had hij geleerd over het verkopen en het inkopen.
Op het gegeven moment had hij een idee om een ham te produceren. Het merk van zijn ham is Ganda uit Gent. Zijn ham is origineel en wordt gemaakt met aandacht en ambacht. Vergeleken met industriële hammen, is de ham van Dirk zonder andere bewaarmiddelen gemaakt. Hij gebruikt in zijn ham alleen zout uit de Middellandse zee en veel tijd. Om één ham maken heeft hij negen maanden nodig.
Hierbij volgen de handelingen die hij moet doen om een ham te maken. De ham wordt gezouten. Daarna laat hij hem een tijd rust en hij gaat hem masseren. Dit proces wordt nog een keer herhaald. Ten slot hangt hij hem uit en laat hij hem rijpen.
Dit artikel heb ik van Goesting gelezen. Goesting is een tijdschrift dat schrijft over Vlaamse smaakmakers en over het goede leven. Ik vind dit artikel heel interessant. Ik houd veel van koken en eten. Ik ben geïnteresseerd in de achtergrond van het eten zelf. Ik wist het niet dat een ham maken negen maanden duurt. Ik hoop dat ik ooit dit product kan vinden zodat ik de ham van Dirk kan proeven.

Vebeterd

Preject in Manado

Van kinderen voor kinderen in Manado
En aantal maanden geleden deden kinderen van de St. Joseph-parochie en kinderen van het Brandpunt hun eerste heilige communie. Tijdens de voorbereiding spaarden de kinderen voor een goed doel. Dit jaar voor de St. Theresia-school, in Manado, Indonesië. Dewi Ambarwati, moeder van een communicantje bracht met haar familie het geld naar Manado en ze schreef het volgende verslag:
De Eerste communicantjes uit de St. Joseph-kerk en het Brandpunt hadden voor hun spaarproject veel geld bij elkaar gespaard voor de Katholieke Basisschool St. Theresia in Manado, Indonesië, die door een brand gedeeltelijk verwoest was. In totaal was er 1903 Euro bijeengebracht. Een geweldig bedrag! De St. Theresia-school werd in 2001 afgebouwd, nadat de Katholieke gemeenschap 10 jaar bezig was geweest. Van een kleine basisschool, in een kleine wijk, genaamd Malalayang te Manado, werd het een school voor 1000 leerlingen. De katholieke gemeenschap daar groeide van 60 gezinnen naar 300 gezinnen. De basisschool was niet alleen maar bestemd voor katholieke kinderen maar ook voor kinderen met een andere religie. Vroeger had de school enkele tientallen leerlingen en inmiddels zijn er meer dan 1000 leerlingen. De school groeide van alleen een basisschool en een peuter / kleuterschool naar een grote school met een lagere middelbare school en een hogere middelbare school. Het was noodzakelijk om de school te verbouwen, de Katholieke gemeenschap St. Theresia heeft de school zelf gebouwd en verder herbouwd zonder financieel steun van de overheid. Tijdens het bouwen was er ook nog een economische crisis in Indonesië, waardoor de bouw extra lang duurde. In 2001 hebben ze een mooie stevige gebouw met 3 verdieping neergezet, maar helaas eind 2003 stond de school in brand. Er waren 10 lokalen op de derde verdieping weg. De bibliotheekruimte voor deze drie scholen was ook weg en de 10 computers. Ze moesten opnieuw beginnen.Dit schoolgebouw is heel belangrijk voor deze omgeving. Van de 1000 leerlingen kan de ene helft de school vanaf 07.00 tot 12.30 uur gebruiken en de rest van 13.00 tot 18.00 uur.Helaas werd een groot deel van de school eind 2003 door brand verwoest. Er waren 10 lokalen op de derde verdieping, de bibliotheek en de 10 computers verdwenen.Toen mijn dochter Decinta Postema haar eerste communie in Hooglanderveen deed, werd dit als project uitgekozen. Het gespaarde geld konden we deze vakantie zelf naar Indonesië meenemen.We reisden eerst 10 dagen rond op Java, wat een mooie ervaring was voor onze kinderen, die geboren en getogen zijn in Nederland. Alles was anders. Er zijn heel erg mooie stranden, prachtige bergen, heerlijk weer en lekker eten en veel vriendelijk mensen. Maar in grote steden als Surabaya of Jakarta was er veel armoede op straat, veel kinderen die langs de auto’s liepen om kranten, water of koekjes te verkopen. Ze gaan niet meer naar school omdat ze hun ouders moeten helpen om de kost te verdienen. Ergens anders stonden er veel mooie villa’s, waarin mensen woonden met veel bediendes en een paar mooie auto’s voor de deur. Het is zo bizar om te zien hoe groot de verschillen zijn tussen de rijken en de armen. Een zin van mijn dochter zullen we nooit vergeten; ”Mama, ik ben blij dat ik niet als bediende geboren ben.”In Sidoarjo -een stad dichtbij Surabaya- was er een modderoverstroming, de oorzaak was de regering die bezig was naar aardgas te boren. Dit project was in het midden van de stad. Het project was gestopt maar ze hadden al een gat gemaakt in aarde, waar modder uitkwam. Er waren veel huizen kapot gegaan door deze modderoverstroming en veel mensen werden uit deze wijken geëvacueerd.Wij waren op bezoek in Oost-Java, maar een maand eerder was er een zware aardbeving op Midden Java (Yogjakarta). In Oost-Java waren er veel mensen op straat, die geld verzamelen voor de slachtoffers in Yogjakarta. Er waren volgens de Indonesische regering 5000 mensen overleden door deze aardbeving.Op 7 juli zijn we naar Manado vertrokken, en een paar dagen later gingen we naar het schoolcomplex. Het schoolgebouw was al klaar, de derde verdieping was herbouwd. Je zag niet meer dat de school ooit verbrand was. Ik was echt aan het twijfelen of we het geld aan deze school moesten geven of dat we het misschien aan een ander doel moest besteden. Toen ik naar binnen ging zag ik, dat de buitenkant was mooi maar binnen was niks. Ze hadden een gebouw maar verder moesten er veel gebeurd. Ik was toch blij dat deze school heb geholpen.

De soldaatjes van de regenboog

De originele titel is: “Laskar Pelangi.” "Laskar" betekent soldaten en "Pelangi" betekent de regenboog. Op dit moment is dit boek in Indonesië een bestseller. Het is geschreven door Andrea Hirata. Hij schreef zijn biografie.

In Belitung waar Andrea geboren en getogen is, waren debewoners in twee groepen verdeeld. De ene groep bestond uit de rijke mensen en de andere groep bestond uit de arme mensen. De rijke mensen woonden in villa’s met zwembaden en bediendes. Hun huizen werden omringd door een hoge muur. De rijke kinderen gingen naar een internationale school en ze werden gebracht door een chauffeur met hun dure auto’s en ze kregen nog extra privé muziekles.

De arme mensen woonden aan de rand van het eiland en ze leefden in een armoedege situatie. De huizen waren slecht. Je kunt het beter een hutje noemen in de plaats van een huis. Ze woonden met veel mensen in een hutje. De kinderen konden niet naar school omdat ze geen geld hadden om een school te bekostigen. Veel kinderen uit deze arme gezinnen werden heel jong als kinderarbeiders bij de tinmijn ingezet.

Terwijl deze twee groepen mensen dezelfde werkgever hadden, hadden ze een ander lot. De rijke groepen hadden een exclusieve baan en de arme groepen hadden een zware baan.

Andrea’s vader werkte als zware arbeider. Zijn familie was heel arm. Hij had 4 broers die bij de mijn werkten en Andrea was de enige zoon uit dit gezin die naar basisschool kon. Hij ging naar een basisschool voor de arme mensen. Zijn basisschool leek op een stal en hij ging naar de basisschool zonder schoenen. Op deze basis school ontmoette Andre 11 andere lotgenotenkinderen. Deze kinderen deden alles om naar basisschool te gaan. Ze moesten vechten om onderwijs te krijgen. Deze 11 kinderen noemden zich "de soldaatjes van de regenboog"of “Laskar Pelangi”
Ik vind dit verhaal indrukwekkend, ontroerend en spannend. Andrea schreef zo overtuigend. Toen ik dit boek las,kon ik niet meer stoppen met lezen. Toen pas realiseerde ik me hoe veel kansen we hier hebben om van onderwijs te genieten. Dit verhaal gaf me veel motivatie voor mijn toekomst en ik wil deze kansen grijpen!

ABVAKABO wil woensdag stakingen in openbaar vervoer.

De telegraaf, 05 oktober 2009.



Op maandagochtend 05 oktober heeft de woordvoerder van de ov vakbond bekend gemaakt dat in Amsterdam, Rotterdam en Den Haag op woensdagochtend in de spits er geen openbaarvervoer rijdt. Deze staking is een protest tegen de plannen van het kabinet dat AOW leeftijd gaat verhogen.
De voorbereiding is in volle gang. De eerste instantie wil de vakbond de staking na de ochtendspits, maar helaas heeft de ov directie geweigerd om samen te werken.

De gemeentelijke vervoerbedrijven zijn druk bezig met de voorbereiding tegen een kort geding om de staking tegen te houden. Ze vinden dat de AOW plannen niet van het bedrijfbestuur maar van het kabinet. Dus als de vakbond gaat protesteren, moet ze tegen het kabinet protesteren.

De reizigersvereniging ROVER noemt deze actie van de vakbond ‘vreselijk asociaal’. De zegsvrouw vindt dat de reizigers niet in de dupe zouden moeten zijn. Rover overweegt zich aan te sluiten bij het korte geding dat de gemeentelijke vervoerbedrijven in de grote steden hebben aangespannen tegen de vakbond.

Ik ben tegen de plannen van het kabinet dat de leeftijd van AOW van 65 naar 67 gaat verhogen. Ik vind dit plan onnodig, onzinnig en ongewenst. Maar ik vind dat de vakbond te ver is gegaan. Want deze plannen worden gemaakt door het kabinet niet door de werkgever van het vervoerbedrijf en die geldt niet alleen voor ze maar ook voor iedereen die in Nederland woont. Ik denk dat beter is als ze gaan demonstreren tegen de kabinetplannen maar niet staken. Want door het staken worden de reizigers en de vervoerbedrijven in dupe.

De vrijheid van mening en jezelf blijven

Er is geen ander onderwerp waarover ik heel erg enthousiast kan vertellen dan over de vrijheid van mening en jezelf blijven. Ik woon al 15 jaar in Nederland en ik zie hoe mensen hun mening kunnen uiten. Dit geldt niet alleen voor volwassenen maar ook voor de kinderen en de verschillende groepen met verschillende achtergronden.

Als je homoseksueel bent, kun je jezelf blijven. Je hoeft niet bang te zijn dat mensen je gaan beoordelen of straffen. Ik herinner mij nog de tijd toen ik op Java was. Er was een moeder die haar zoon in zijn eigen slaapkamer had gevangen. Deze jongen mocht niet meer naar buiten omdat hij zich anders gedroeg dan andere jongens in zijn leeftijd. De moeder schaamde zich dat haar zoon anders was. Ze was ook bang dat haar zoon een straf zou krijgen van de dorpelingen. De dorpelingen geloofden dat er in hun dorp schande en zonde zou ontstaan door deze jongen omdat hij homo was. Een aantal jongens heeft het huis van dit gezin met stenen bekogeld.

Ook kinderen kunnen hier hun mening geven. Als ze niet willen, kunnen ze gewoon “Nee!”zeggen. Ze hoeven niet met de omgeving rekening te houden. Als je volwassen kinderen hebt, kunnen ze verliefd worden op iemand waaraan je een hekel hebt. Als ouders kan je daar niks aan doen, behalve het accepteren. Hier zeggen de Nederlandse ouders: ”We willen onze kinderen niet kwijtraken. Beter accepteren we het. Hopelijk is het een voorlopige relatie.” Ik denk niet dat ouders in Indonesië het kunnen accepteren. De “wil”van ouders is macht zeggen we in Indonesië. Als je ouders je partner niet mogen, moet je een keuze maken tussen je partner of je ouders. Er is geen middenoplossing.

Als je kijkt naar een uitspraak van de politicus Wilders, Hirsi Ali en Van Gogh over de islam of over andere groepen die tegen de monarchie zijn, vind ik het ondenkbaar dat mensen in Nederland zulke gedachten in de media zonder angst durven te zeggen. Mijn vrienden zeggen tegen mij: “Als het je niet bevalt, moet je het zeggen! Anders komt er geen verandering of anders ontplof je door een burnout.” In Indonesië kunnen we het niet. Je moet rekening houden met de omgeving, bijvoorbeeld je familie, je vrienden en je buren voordat je iets gaat zeggen. Je mening is hier niet gekoppeld aan je omgeving. Je mening is je eigen uitspraak. Het heeft niets te maken met je familie of je omgeving.

Er zijn veel voorbeelden die ik heel graag zou willen vertellen over de vrijheid van mening en jezelf blijven in het dagelijkse leven. Ik vind het geweldig om in een land te wonen waar iedereen zijn mening mag uiten. Ik ben heel erg dankbaar dat ik mijn kinderen in een vrij land mag opvoeden.