Seorang ahli psikologi, Maslow, memaparkan kebutuhan manusia dalam teori piramid. Dia menguraikan bahwa manusia berada pada level pertama ketika manusia berusaha memenuhi kebutuhan pokoknya. Manusia berada di level kedua ketika manusia mendapatkan kestabilan, kenyamanan dan ketenangan hidup. Pada level ketiga manusia memenuhi kebutuhan sosial dan emosinya karena mempunyai cukup teman, cinta kasih dan diterima di lingkungannya. Sedangkan level keempat manusia sudah mendapatkan kesuksesan, prestise dan status.
Jika seseorang sudah berada di level keempat maka hidup adalah suatu yang hampir sempurna karena dalam posisi ini seseorang sudah mempunyai status, prestise dan kesuksesan, dan itu adalah impian banyak orang. Impian saya dan impian anda. Saya yakin anda setuju dengan pendapat saya. Tapi apakah itu benar?
Jika anda mendapatkan kesuksesan, prestise dan status dalam kehidupan, apakah anda sudah puas dengan kehidupan itu? Saya yakin anda masih akan menoleh ke belakang dan mempertanyakan ke dalam diri anda apakah kehidupan anda sudah sesuai dengan yang anda inginkan? Apakah impian anda sudah tercapai? Jika belum bagaimana anda akan memperjuangkanya? Sebaiknya anda mengambil kertas dan pena, catatlah langkah-langkah apa untuk mencapainya. Mungkin dalam lima tahun mendatang anda mencapainya. Jika anda mempunyai dilema seperti ini maka anda sedang berada di puncak piramid Maslow dan saat ini anda akan berada di level kelima. Karena menurut Maslow manusia berada di puncak piramidnya ketika mencapai segala impiannya.
Jika saya mengamati selama 15 tahun kehidupan beberapa teman di sekeliling, maka saya melihat tahap-tahap perjuangan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Perjuangan mereka setelah menyelesaikan bangku kuliah untuk mendapatkan pekerjaan, lalu perjuangan untuk membeli rumah beserta isinya dan mobil, perjuangan untuk mempunyai anak dan mendidiknya, perjuangan untuk membangun kontak sosial dengan sekelilingnya dan kemudian perjuangan untuk menuju kesuksesan, prestise dan status. Pada akhirnya perjuangan itu tercapai. Mereka mempunyai pasangan hidup yang mereka pilih, punya anak yang sehat, rumah, mobil yang bagus, dan pekerjaan yang stabil. Pada musim dingin mereka pergi ke pegunungan Alpen di Perancis untuk bermain ski dan pada musim panas pergi ke Afrika-Selatan atau pergi ke pantai-pantai di Asia untuk berjemur. Sementara pada musim gugur pergi ke Milan untuk membeli koleksi baju musim dingin, sementara di musim semi pergi ke New York untuk membeli baju musim panas.
Jika saya menempatkan kehidupan mereka di piramidnya Maslow tentang kebutuhan manusia, maka saya akan menyimpulkan bahwa rata-rata kebutuhan kehidupan mereka sudah menduduki level keempat.
Kenalan saya, sebut saja si "A", bekerja di Rabo Bank—salah satu top manager Rabo Bank—mempunyai gaji tinggi dan mempunyai posisi yang terhormat, anak yang sehat, istri cantik, rumah dan mobil bagus dan selalu berlibur ke mana-mana. Menceritakan bahwa dia sudah bosan dengan pekerjaannya. Saat ini sedang berorientasi untuk mencari pekerjaan yang lain. Sementara pekerjaan yang lain tersebut gajinya lebih rendah tetapi dia akan lebih berbahagia dengan pekerjaannya yang baru. Uang bukan segalanya dalam hidup ini, katanya.
Hal itu juga terjadi dengan teman saya yang lain, seorang engineer dan ia bekerja di DHV, sebuah perusahaan kontraktor di Belanda yang mempunyai banyak klient di Indonesia, dan suatu hari ia pulang ke rumah dan menceritakan kepada istrinya bahwa ia ingin keluar dari pekerjaannya dan ingin mengembalikan BMWnya ke kantornya kemudian dia ingin melamar menjadi seorang koki di sebuah restaurant, karena pekerjaan ini adalah impiannya sejak kecil.
Satu lagi teman perempuan saya, bekerja sebagai account manager, mempunyai gaji yang tinggi dan mendapatkan mobil bagus dari perusahaannya. Suatu hari ia memutuskan untuk melepaskan pekerjaannya dan memilih untuk kuliah lagi agar bisa menjadi guru sekolah dasar.
Mungkin anda juga pernah membaca novel fenomenal Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi. Salah satu anggotanya yang bernama Sahdan, dengan kehidupan yang sangat miskin saat masa kecilnya, berjuang mati-matian untuk bisa hidup layak dan hampir menjadi gelandangan di Jakarta kemudian mengikuti kursus komputer dan mendapatkan pekerjaan di IT. Malahan keberuntungan terus menyirami kehidupan Sahdan karena dia memperoleh beasiswa "short course" di bidang network computer di Kyoto University. Maka Sahdan seperti kata-kata Andrea Hirata, "Sahdan, pria liliput putra orang Melayu, nelayan, jebolan sekolah gudang kopra Muhammadiyah telah menduduki posisi sebagai Information Technology Manager di sebuah perusahaan multinasional terkemuka yang berkantor di Tanggerang!" Tetapi ia masih bermimpi menjadi seorang aktor!
Coba bayangkankan saja, berapa juta orang memimpikan kehidupan tersebut? Bekerja dengan posisi di puncak dan mempunyai segalanya dan menukar dengan pekerjaan lain yang lebih rendah dengan gaji yang lebih kecil? Mungkin mereka benar. Mencari pekerjaan bukan karena uang tetapi seseorang mencari pekerjaan karena menyukai pekerjaan tersebut dan pekerjaan itu adalah impiannya.
Jika saya menganalisa kehidupan saya akhir tahun 2002- 2009 lalu, saya mempunyai perusahaan, "Dewi Cooking Event and Team Building Course" yang mengorganisasi kursus memasak untuk ibu-ibu, karyawan perusahaan, mengorganisasi pesta makan malam dan memberi kursus team buliding. Perusahaan ini juga terdaftar di KVK Belanda sebagai perusahaan resmi meskipun saya mengerjakan secara partime. Sebenarnya pekerjaan ini menyenangkan dan saya bisa berkontak sosial dengan banyak orang sehingga saya tidak hanya berposisi sebagai ibu. Dengan hasil ini saya bisa memenuhi kebutuhan saya sebagai wanita dengan tetek bengeknya tanpa minta uang dari suami.
Namun demikian, jika saya jujur, dalam kehidupan saya ada sesuatu yang kosong. Ada sesuatu yang belum terpenuhi dan tercapai. Tetapi anda jangan salah menafsirkan kalimat saya ini, karena pada kenyataannya saya bahagia dengan suami dan anak-anak saya. Ibu, kakak-kakak dan teman-teman saya di Indonesia mengatakan bahwa saya harus mensyukuri dan menikmati kehidupan saya. Dan itu sudah cukup!
Tetapi kekosongan ini membuat kehidupan saya tidak lengkap. Seperti puzzel yang hilang satu bagian. Dan bagian puzzel yang hilang ini adalah impian dan cita-cita saya saat saya masih kecil untuk menjadi seorang penulis dan menjadi wartawati. Dan saya akan mencari puzzel ini untuk melengkapi puzzel kehidupan saya. Mungkin sangat berat buat saya karena saya mempunyai tiga anak yang masih kecil, mengurus rumah tanpa pembantu, mempunyai segudang kegiatan sosial serta banyak menghabiskan waktu untuk berolahraga, sementara suami harus bekerja keras karena mempunyai perusahaan sendiri. Sementara saya ingin menjadi penulis tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Belanda. Untuk mencapai cita-cita saya ini, bulan September saya akan kuliah di Deeltijd Opleiding HBO-Communicatie Amsterdam. Untuk persyaratan memasuki fakultas ini saya harus mempunyai pengalaman menulis. Sementara saya tidak mempunyai pengalaman tersebut. Untuk tujuan itu saya mengikuti beberapa kursus menulis, yaitu dalam bahasa Indonesia melalu Harian Online Kabar Indonesia (HOKI), bahasa Belanda di Jamesboswel Institut Universitas Utrecht dan pada bulan Februari mulai juga kursus menulis dalam bahasa Inggris. Malam ini saya menulis tugas dari HOKI sampai jam dua malam dan besok pagi setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan beres-beres rumah, saya harus menulis tugas lain dalam bahasa Belanda. Sebenarnya berat juga buat saya, tetapi ini adalah impian saya dan saya memendamnya lebih dari 25 tahun.
Saya sangat beruntung mengikuti kursus ini karena biayanya sangat murah dan saya mendapat bimbingan yang sangat bagus dan profesional. Terus terang ketika saya menerima tugas dari HOKI untuk menulis, jantung saya berdetak, dan ketika jari-jari saya menekan toets computer untuk menyusun kalimat, saat itu pikiran, perasaan dan jari-jari bersatu seperti "sedang bercinta". Waktu yang berjam-jam saat saya menulis sepertinya berhenti dan perasaan passie dan gejolak di dada seperti ketika saya menulis ini tidak saya pernah alami ketika saya memberi kursus memasak atau saat saya sedang mengorganisasi makan malam sebuah perusahaan. Karena perasaan yang saya rasakan saat itu hanyalah bekerja untuk mendapatkan uang.
Maka saya tidak bisa membayangkan kenikmatan apa yang mereka dapat saat para penulis terkenal seperti Tatiana de Rosnay, Isabel Allende, John Irving, Khaled Hosseini, Leon de Winter, Carlos Ruiz Zavón, dan Elizabeth Gilbert sedang menulis karya besar mereka. Mungkin perasaan saat mereka menulis seperti sedang menari di surga dan bercinta dengan para Dewa dan Dewi. Perasaan inilah yang saya ingin dapatkan dalam bidang tulis-menulis dan ini motivasi pertama saya untuk ingin menjadi penulis, yaitu "bercinta dengan tulisan!"
Jika Maslows masih hidup saya tidak tahu ke mana ia akan menerapkan tentang teorinya dalam kehidupan saya. Lalu bagaimana pula dengan anda? Di level manakah kehidupan anda jika anda menerapkan teori-teori Maslow? Bagaimana cara anda ingin mencapainya? Tentu, anda pula yang tahu jawabannya. []
donderdag 14 januari 2010
Abonneren op:
Reacties posten (Atom)
Geen opmerkingen:
Een reactie posten