Malam itu begitu gelap-gulita tanpa sedikit pun cahaya bulan dan bintang yang menyinari kota Benin City. Hanya beberapa obor yang menerangi tempat itu. Joy, gadis berkulit hitam dan berambut kribo, berdiri dengan gemetar di muka altar kecil. Matanya tertutup dengan kain putih yang kumal.
Sebuah kuali berisi beberapa silet, potongan kuku, potongan rambut dan bercak darah menstruasinya terletak di atas altar, diapit dengan kepala kucing yang dikeringkan, tengkorak anjing dan beberapa tikus hangus.
Seorang pendeta juju dengan pakaian adat Afrika dari bahan tenun berwarna merah memulai upacara. Ia membuat lingkaran besar yang mengelilingi badannya dari kapur tulis. Kemudian pemimpin kepercayaan primitif itu menggambari di tengah lingkaran dengan beberapa simbol. Lalu ia mengangkat dua tangannya dan memandang ke langit sambil mengucapkan mantra dengan melodi menyayat yang berganti-ganti ritme, dari tinggi kemudian rendah sambil menari dengan gerakan yang kaku. Kadang laki-laki itu menghentakkan kakinya. Sementara beberapa kendang dipukul keras bertalu-talu mengikuti irama kaki laki-laki itu.
Seorang asisten memasuki lingkaran untuk membedaki mukanya dan menyerahkan seekor ayam jantan hidup. Pendeta itu menerimanya lalu memutar kepala ayam dengan sekali gerakan yang sangat kasar sampai kepala ayam itu terpenggal, lalu memasukkan kepala ayam di atas kuali. Kemudian dengan tangannya, merobek dada ayam untuk merenggut hatinya. Ia memasukkan hati ayam yang masih mentah dan berdarah itu ke mulut, lalu mengunyahnya. Asistennya mengambil badan binatang itu, lalu memasukkan tetesan darah itu ke kuali dan membakar bersama bulu-bulunya dengan obor. Begitulah pembukaan upacara bagi gadis Nigeria sebelum meninggalkan negeri itu untuk mengadu keberuntungan di Eropa, tanah impian.
Nigeria adalah negara miskin. Salah satu cara untuk merubah kehidupan yaitu dengan mencari pekerjaan ke Eropa. Melalui seorang makelar gadis-gadis Nigeria ini menemukan jalan untuk merubah nasib.
Sementara untuk mengurus segala dokumen yang dibutuhkan dan biaya transportasi, mereka membutuhkan uang sejumlah 10.000-20.000 Euro. Para makelar ini pun bersedia meminjami uang terlebih dahulu. Setelah berada di Eropa, mereka wajib mencicil. Syaratnya sebelum berangkat, gadis-gadis ini harus mengikat perjanjian hutang-piutang dengan sebuah upacara juju.
Pada kenyataannya sampai di Eropa para wanita remaja ini diperdagangkan. Mereka dijual dan dibawa ke Belanda, Perancis, Belgia, Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia dan negara bagian Eropa lainnya, selanjutnya dipekerjakan di rumah prostitusi. Hasil yang didapatkan harus disetorkan ke seorang madam.
Pengalaman yang dialami oleh Susan (18 tahun) di Perancis, ia harus bekerja sebagai prostitusi di jalanan. Ia melakukan itu terkadang 24 jam dan hasilnya harus disetorkam kepada Madam untuk mencicil hutang-hutang. Malahan salah satu temannya lumpuh akibat kekerasan seorang pelanggan. Sementara Susan juga pernah hamil, tetapi Nyonya atau Madam yang berfungsi sebagai bos itu, memukul dan menghatam perutnya sehingga bayi di kandungan gugur.
Susan dan beratus-ratus gadis dari Nigeria diperbudak di dunia prostitusi, tidak berani melarikan diri. Mereka lebih memilih menderita sebagai budak seks dari pada mendapat kutukan dari juju. Hal ini disebabkan karena kepercayaan yang kuat terhadap juju yang di wariskan dari leluhur berabad-abad.
Peristiwa ini sangat menghebohkan masyarakat Eropa ketika pada bulan Oktober 2007 polisi membebaskan 140 gadis Nigeria yang terkurung di balik terali. Mereka tenyata telah bertahun-tahun terkurung sebagai budak seks dengan kondisi fisik dan psikologi yang sangat memprihatinkan. Di rumah penampungan di Zwolle-Belanda gadis-gadis ini ditampung dan pada akhirnya dikembalikan lagi ke negara asalnya setelah mendapatkan pertolongan dari para dokter dan psikologi.
Pada akhir tahun 2007, Departemen Kehakiman Belanda berhasil menangkap sebelas tersangka, mereka adalah sindikat yang memperdagangkan gadis-gadis Nigeria yang bekerja sama dengan sindikat-sindikat dari beberapa negara Eropa lainnya. Selain itu para anggota kriminal ini bekerja sama dengan para pendeta juju dari Nigeria.
Seperti yang diberitakan oleh Veronica TV Belanda pada tanggal 1 Maret 2010, ternyata masih banyak gadis dari Nigeria yang mempersiapkan diri pergi ke Eropa, sementara dari mereka mengetahui bahwa banyak gadis menjadi korban dan kembali dengan kondisi yang menyedihkan.
Malam semakin larut di Benin City. Pendeta itu keluar dari lingkaran kapur dan meminum isi kuali. Lalu melangkahkan kaki ke arah Joy yang masih berdiri kaku. Jantung gadis belia itu berdetak, badannya semakin menggigil. Pendeta itu melepaskan kain putih kumal dari wajahnya. Kemudian menyemprot darah ayam yang berada di kuali ke wajah gadis hitam itu dengan mulutnya, sambil menyerukan: "God is watching you! You must pay the money back! Dont run way! The spirit is following you until you die!"
Joy cuma mengangguk. Dia yakin tidak bakal bisa lepas dari kekuatan gaib yang akan mengikutinya. Itu berarti setiba di Eropa dia harus segera melunasi hutang-hutangnya. Kalau tidak, dia bisa bernasib seperti ayam jantan yang terpenggal kepala dengan dada yang robek, hati tercabut dan terbakar.
maandag 15 maart 2010
Abonneren op:
Posts (Atom)