maandag 26 april 2010

Citizen Journalism, Saat Minum Teh


Hari Sabtu 27 Maret 2010, empat hari sebelum pemilihan Dewan Kota di Belanda dan seminggu setelah kabinet Balken jatuh. Monigue penduduk Belanda biasa, mengundang Karin bersama Pieter suaminya minum teh pada sore hari ketika cuaca diluar sangat dingin.

“Kabinet Balken tumbang, persiapan pemilihan presiden baru empat bulan lagi. Moga-moga partai dari Geert Wilders tidak menggantikan kabinet baru,” kata Jan suami Monigue yang sambil mengaduk gula di cangkir teh dengan sendok kecil.

“Pemimpin partai politik PVV Geert Wilders, hmmm..," Karin mencibirkan bibirnya, "Bayangkan saja kalau partai ini mandapatkan kursi terbanyak! Sekarang hanya sebagai ketua partai, dia tidak boleh memasuki Inggris. Bagaimana kalau laki-laki itu jadi presiden! Banyak negara akan memboikot ekonomi Belanda, yang jelas Belanda akan hancur,” kata Karin sambil meletakkan cangkir tehnya yang kosong di atas meja kaca.

“Aah…, Paling tidak, Belanda punya mode rambut baru. Gaya rambut Geert Wilders yang sedikit oranye, sepertinya terlalu banyak cat rambut,” jawab Monigue sambil menuangkan teh di cangkir Karin yang kosong sambil tertawa. Tamu dan suaminya tertawa terbahak-bahak menanggapi kata-kata nyonya rumah yang konyol itu.

Sementara topik lain keluar lagi silih berganti dari masalah ekonomi Belanda yang resah karena pengaruh ekonomi Amerika yang lagi ambruk, kemudian tentang Sven Krammer tokoh olahraga, lalu kembali lagi ke masalah politik, kemudian masalah undang-undang baru di Belanda yang baru disahkan. Kadang datang diskusi atau debat yang menghangatkan suasana.

Inilah suasana minum teh di Belanda ketika merayakan sebuah pesta, entah pesta ulang-tahun atau entah hanya sekedar mengunjungi saudara atau sahabat. Kebudayaan minum teh di Belanda dilakukan pada pukul sepuluh pagi, pukul tiga sore dan pukul delapan malam, bersama keluarga, saudara atau teman. Mereka duduk dengan membentuk lingkaran di ruang tamu, di tempat kerja atau di sebuah restoran sambil berkomunikasi dan tukar-menukar informasi.

Saat seperti ini mereka adalah model Citizen Journalism karena mengangkat topik-topik yang aktual di kehidupan sekeliling. Ini adalah contoh sehari-hari pewarta warga yang menyampaikan informasi kepada teman minum teh dengan dasar kontak sosial yang hangat dan nyata tanpa dunia internet atau dunia maya.

Cuaca di luar rumah Monigue pada sore itu semakin dingin, ia di dapur memotong appeltaart yang dibuat semalam sebelumnya dan meletakkan di atas empat piring kecil. Lalu membawa ke ruang tamu untuk membagikan kepada tamu-tamunya. Sementara Jan suaminya memenuhi kan teh yang sudah kosong dengan teh baru yang sangat panas, kemudian ia menyalakan beberapa lilin di atas meja untuk menghangatkan suasana ruang tamu dan menghangatkan percakapan mereka.


foto: www.rianna.web-log.nl

Hidup atau Mati

Sabtu malam, 22 anak-anak muda berumur antara 12-18 tahun berkumpul di pinggiran kota. Beberapa dari mereka duduk di tangga beton dan yang lain berdiri. Mata dan telinga mereka berpusat pada Javier the copkiller, berumur 18 tahun, pemimpin gang. Dengan bangga pemuda ini menghitung jumlah korban yang ia tembak dengan jari-jari tangannya. Di pangkuannya sebuah senjata kaliber AK-47. Juan anggota termuda memandang pimpinannya dengan mata berbinar sambil memainkan pistol di tangan.

Inilah gambaran kehidupan 400.000 anak jalanan di Caracas. Mereka menjadi anggota dalam sebuah gang dan masing-masing mempunyai senjata. Pada awalnya pekerjaan mereka mencopet, mencuri, merampok, menyelundupkan narkotika kemudian meningkat menjadi pembunuh. Kasus pembunuhan tersebut terjadi dengan beribu alasan, seperti; membunuh karena harus melindungi diri terhadap serangan, membalas dendam karena salah satu anggota gang terbunuh dan bahkan karena untuk mendapat bayaran.

Peristiwa pembunuhan di ibu kota Venezuela terjadi hampir setiap hari, terutama pada malam Sabtu atau malam Minggu sampai mencapai 60 - 80 kasus. Pada akhir 2009 terjadi 20.000 kasus pembunuhan. Jumlah ini mencapai record tertinggi di dunia. Selanjutnya diperkirakan semakin meningkat per tahun, sampai-sampai pihak kepolisian berhenti menghitungnya. Korban dan pelaku kebanyakan adalah anak-anak jalanan yang sedang berkelahi dengan gang lainnya.

Seperti yang dipaparkan oleh Alberto Vollmer, seorang multi jutawan asal negeri itu, mengatakan bahwa masalah yang dihadapi mereka sama dengan masalah sosial yang dihadapi anak jalanan di negera-negara lain, bedanya anak jalanan di Caracas harus berjuang mempertahankan nyawa untuk hidup.

Alberto pengusaha kopi dan rum terbesar di Amerika Selatan mendirikan sebuah proyek yang disebut "Alcaltraz". Proyek ini menengahi para grup gang yang sedang bertikai dan mencoba membujuk para anggotanya keluar dari kehidupan jalanan untuk bekerja di pabriknya. Melalui proyek integrasi, ia berusaha mengubah masalah sosial dan psikologi mereka sehingga bisa kembali berfungsi sebagai pemuda bermasa-depan. Sampai saat ini 150 dari 400.000 anak jalanan itu dengan sukarela mengikuti proyek tersebut. Selebihnya masih di jalanan tanpa harapan.

Malam semakin larut, anak-anak jalanan itu berjalan bergerombol meninggalkan tempat berkumpulnya menuju kampung Patara, tempat pertemuan mereka dengan gang lainya. Javier the copkiller berjalan di samping Juan sambil berkata, “Waktu akan tiba, kamu pun akan tangguh seperti aku. Waspadalah selalu. Jika kamu ingin hidup, maka musuhmu harus mati!”

Tiba-tiba, "Bang! Bang! Bang!" Suara tembakan berasal dari arah selatan. Gerombolan itu bubar. Mereka melompat ke balik tembok. Beberapa bertiarap dan merangkak ke arah got. Javier menarik Juan ke belakang sebuah mobil, lalu membidikkan senjatanya ke arah selatan.

Di tengah suara tembakan yang bertubi-tubi, suara jeritan anak laki-laki dari belakang mobil melengking. Javier, pemuda ganteng dan pemimpin gang itu, terkapar di pangkuan seorang bocah kecil berumur 12 tahun. Banjiran darah mengalir dari dadanya.

Di Balik Tembok Israel

Tembok pagar tebal berwarna putih abu-abu berdiri dengan kokoh di sepanjang mata memandang. Di bagian atas bangunan itu berbaris 10 jajaran kawat duri untuk menambah ketinggian tembok. Pada kawat duri itu, dililiti kabel listrik ribuan watt. Ratusan pipa besi tertancap dan berbaris di bagian atas. Pada setiap ujung pipa itu, menompang sebuah kotak lensa kamera ke arah Tepi Barat di Palestina.

Di sisi tembok itu beberapa coretan dan lukisan, dibuat oleh pemuda Palestina. Sebuah lukisan dari cat berwarna hitam, menggambarkan badan dan kepala seorang laki-laki tua dengan jubah putih yang dilingkari band hitam. Tangannya memegang dua kunci rumah yang ditinggalkan sejak tahun 1948. Rumahnya berada di tanah nenek moyang di balik tembok itu, tetapi di bawah kekuasaan Israel.

Beberapa langkah dari lukisan itu, beberapa rangkaian huruf ditulis dengan cat merah, berbunyi; “Free Palestina!” Lalu beberapa kalimat menyusul dibawahnya; ”Im not terrorist, I live here.” Kemudian jarak dua meternya lagi sebuah kalimat berwarna hitam dengan huruf kapital; “Who are you? Catholic, Jew, Muslim, Human being…” dan disusul dengan huruf bergandeng; "This wall is a shame on the Jewish people, on my people.”

Tembok pemisah itu melingkari Tepi Barat bagaikan sebuah penjara bagi penduduk. Dibangun oleh bangsa Israel sejak tahun 2002 dan tahun 2010 ini hampir selesai. Panjangnya sekitar 700 km dengan ketinggian sekitar 3 meter. Biaya tembok ini diperkirakan per kilo meternya sekitar dua juta Euro. Tujuannya untuk melindungi penduduk Israel dari bahaya serangan lawan yang mereka sebut sebagai teroris.


Palestina tidak menerima ini karena menginjak harkat, martabat dan menghancurkan ekonomi bangsanya. Demikian juga PBB menganggap tembok ini ilegal. Selain itu Israel membangun tembok dengan berbelok-belok, 80% berada di atas tanah penduduk Palestina. Ini sangat menyakitkan karena mereka terpaksa menyerahkan tanahnya.

Jika penduduk harus mencapai daerah bagian lain demi pekerjaan atau mengunjungi sanak dan keluarga di daerah lain di balik tembok, maka penduduk Palestina ini harus melewati puluhan check point yang diawasi ketat oleh tentara-tentara Israel. Ini membutuhkan waktu berjam-jam karena harus melalui jalan putar. Itupun tidak gampang, kadang mereka setelah melakukan perjalanan yang jauh, ternyata tidak lolos memasuki pintu gerbang. Akibatnya mereka terisolasi dan merasakan hidup seperti di penjara.

Ratusan Check point tidak hanya berada di pintu gerbang masuk, tetapi berada di sisi jalan yang bersebelahan dengan tembok dan berada di wilayah negara Palestina. Sehingga para pengguna jalan harus dipatroli seperti pencuri. Contohnya saja untuk mencapai daerah lain di Tepi Barat yang berada sekitar 20-30 km dari arah selatan Ramallah, ibu kota Palestina, membutuhkan waktu berjam-jam. Karena harus melalui puluhan Check point dan jalan putar. Hal ini sangat mempersulit distribusi bahan pokok dan membuat frustasi penduduk.

Seperti yang terjadi di daerah Qalqilaya, Israel membangun tembok sepanjang 2 km dengan ketinggian tidak hanya 3 meter, malahan 8 meter dan berjarak 100 meter dari rumah penduduk. Ini mengakibatkan kerugian penduduk Palestina, karena merusak tanah dan rumah.

Suatu siang, ketika matahari mulai tenggelam di balik tembok tinggi 8 meter dan suara adzan luhur dari ufuk timur, seorang laki-laki muda berumur 19 tahun menulis di atas meja di bawah jendela. Mata kirinya kadang menatap tembok tempat dimana dulu dereten pohon zaitun dari orang tuanya. Rambutnya rapi dan dipotong pendek. Di pipi dan bibir tampak goresan bekas luka dan mata kanannya buta akibat pecahan kaca mobil yang meledak karena bom dua tahun lalu. Di dalam kamar yang selalu pengap dan remang, akibat dari tembok tinggi yang menghalangi masuknya cahaya matahari dan menutup rumah dengan bayangan hitam. Ia berusaha melebarkan kelopak mata kirinya lebar-lebar untuk bisa melihat dengan jelas.

Di atas kertas putih buram ia menulis;
"Aku menunggu, hari indah untuk membebaskan penderitaan bangsa Palestina dari belenggu bangsa Israel. Aku mencari jalan menuju tanah airku, jalan menuju identitasku. Meskipun dalam impian. Aku menunggu, untuk kembali ke ladang zaitun di balik tembok tinggi itu. Meskipun 100 tahun lagi."

Sumber:
1. Preliminary analysis of the humanitarian implications of Barrier Projections, UN OCHA.
2. United Civilians for Peace,
3. Berita Veronica- Belanda
4. Telegraaf.

Si Pemandu Wisata di Roma




Judul Buku: Eyewitness Travel: Rome.
Penulis: Olivia Ercoli, Ros Belford and Roberta Mitchell
ISBN: 9781405333771
Ukuran: 125 x 217mm
Tebal : 448
Diterbitkan: 02 Maret 2009
Penerbit: Dorling Kindersley Limited, London

Tema hari pertama adalah Roma kuno. Pada pagi hari menelusuri sejarah Republik seperti mengunjungi Forum Romanum, permandian Pompeii dimana Julius Caesar dibunuh. Kemudian makan siang di Ristorante Da pancrazio dengan suasana abad pertengahan. Pada siang hari menikmati keagungan kekaisaran dan melihat bagaimana para kaisar tinggal dengan mengunjungi kuil-kuil di Forum Boarium, Domus Aurea, dan mengunjungi Collosseum dimana para gladiator mempertarungkan nyawanya.

Hari kedua, berada kota Vatikan untuk mengunjungi museum Vatikan. Di sana menikmati karya seni dari para seniman seperti Michelangelo, Bramanta, Bernini, Rafael, dan Celini. Kemudian mengunjungi gereja St. Pieter dimana pada setiap hari minggu jam 12 siang, Paus Benedictus berdiri di balkon gereja, memberkati para ribuan umat katholik. Lalu makan siang di restoran Fraterna Domus atau L’ Eau Vive yang dikelola oleh para biarawati. Dan diteruskan dengan kunjungan ke gereja tua lainnya dan sebuah benteng vatikan.

Hari ketiga, melihat patung-patung dari kuda laut dan Neptunus yang diapit oleh dua triton di tengah air mancur Di trevi. Dari tempat itu berjalan mengunjungi museum nasional Palazzo Altemps. Kemudian mampir ke tangga Spanyol terkenal, duduk diatas tangga tersebut sambil menikmati kelembutan es cream atau sambil menikmati tonel dari seniman jalanan. Mungkin jika menyukai, bisa belanja di kaki lima, toko second hand, outlet, atau toko eksklusif yang menjual GUCCI, PRADA, Channel, dan barang mahal lainnya.

Hari keempat, jika mempunyai anak-anak sangat menyenangkan untuk mengunjungi kebun binatang Bioparco atau melihat teater boneka di San Corlino. Pilihan lainnya menyewa sepada untuk melihat jalan-jalan atau perkampungan yang dibuat pada abad pertengahan. Lalu duduk di teras restoran untuk menikmati makan siang di Piazza Novona di tengah-tengah bangunan gedung-gedung Renaissance.

Di restoran menikmati hidangan pengantar anti pasta (daging asap seperti salami atau ham) atau roti bruscheta, lalu hidangan pembukanya pasta atau pizza, kemudian hidangan utama daging sapi muda steak yang disebut Saltimbocca alla Romana dan ditemani minum anggur merah Chianti atau anggur putih Frascati. Kemudian datang hidangan penutup tiramisu dan diakhiri dengan espresso, cappuccino atau caffe latte. Begitu nikmat dan menakjubkan di tengah suasana yang indah dan diselingi suara musik accordion yang dimainkan oleh pengamen di dekat air mancur seni barok. Maka hanya kalimat; ”Mamma Mia...,” bisa melukiskan suasana ini.

Menurut buku Eyewitness Travel Guides Rome ini, mengunjungi Roma cukup dalam empat hari. Selain biaya perjalanan dan accomondasi sangat mahal, sementara waktu sedikit karena terlalu banyak tempat yang dikunjungi. Hal ini perlu perencanaan yang sistemmatis dan baik sehingga tidak membuang waktu dan uang.

Buku guide ini, memandu para wisatawan di kota Roma. Dalam buku pemandu ini terdapat informasi lengkap tentang tempat sejarah dari kuil, gereja tua, museum, sampai tempat recreasi, tempat belanja, restaurant, cafe, dan hotel. Malahan tertulis informasi secara detail tentang biaya, tiket untuk masuk atau waktu yang tepat untuk memgunjungi tempat tujuan dari murah sampai mahal. Demikian juga dijelaskan bagaimana cara menggunakan transportasi umum dan murah di Italia mulai turun dari pesawat atau dari tempat ke tempat lain di setiap sudut kota tanpa takut tersesat dengan menggunakan kereta api, bis umum, atau MRT.

Buku ini juga menulis sejarah secara garis besar dari hampir dari semua obyek seperti gedung, gereja, lukisan, patung sampai tokoh-tokoh penting di masa sejarah Roma Kuno, sejarah gereja Katholik dan setiap wilayah di kota museum terbuka ini, dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca. Malahan didukung dengan ilustrasi, gambar, lukisan, foto, atau peta secara mendetail sehingga tidak membosankan. Kadang menampilkan gambar tiga dimensi untuk melengkapi informasi.

Dengan buku ini para wisatawan mendapat ratusan informasi mengenai budaya dan seni Roma, termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Malahan di halaman terakhir terdapat daftar kalimat dan kata benda penting dalam bahasa Italia. Sehingga para wisatawan bisa berkomunikasi secara sederhana jika membutuhkan, karena di negara ini tidak banyak orang bisa berbahasa Inggris.

Kekurangan satu-satunya pada buku ini yaitu peta kota Roma yang tidak praktis. Untungnya para wisatawan bisa mengganti dengan peta resmi kota Roma. Ini bisa dibeli di kios-kios dengan harga murah. Malahan banyak hotel memberikan kepada tamunya secara cuma-cuma.

Selebihnya keuntungan buku ini dengan buku guide lainnya, lengkap dan tidak begitu berat sehingga tidak memakan tempat banyak di tas sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Selain itu penerbit Dorling Kindersley Limited juga menerbitkan banyak buku panduan daerah wisata lain dengan menggunakan methode yang sama, seperti Singapura, Thailand, Hongkong, New York, Australia dll. Ternyata buku ini sangat dibutuhkan sehingga banyak penerbit buku dari negara-negara di luar Inggris juga menerbitkan buku ini dengan bahasa negara lain.

Singkatnya banyak informasi bisa didapat dari buku ini. Jika para wisatawan mengunjungi Roma, tidak perlu lagi melalui travel atau seorang guide yang mahal. Dengan buku ini para wisatawan mendapatkan pemandu wisata pribadi tanpa mendengar kotekan para guide dan bisa menikmati keindahan kota dengan tenang, santai dan optimal. Selamat berwisata.

Nanny McPhee and The Big Bang



Acteurs: Emma Thompson, Maggie Gyllenhaal, Ralph Fiennes, Rhys Ifans, Maggie Smith
Regisur:Susanna White
Panjang:109 menit
Tahun :2010

Nanny McPhee seorang pengasuh dan pendidik anak, mempunyai kekuatan gaib dengan baju jubah panjang berwarna hitam. Ia datang ke keluarga yang membutuhkan dengan tongkat ajaibnya. Wanita bermuka seperti penyihir ini mendapatkan keluarga di sebuah pertanian. Ayah atau kepala keluarga yang seharusnya mengelola tanah pertanian, meninggalkan tugasnya sebagai petani untuk mengabdi negara di medan perang. Sementara istri Ny. Isabel Green harus menggantikan tugas suaminya dan berusaha menyelamatkan tanah pertanian dari adik iparnya.

Mengerjakan ladang dan juga bekerja di sebuah toko sambil mengontrol tiga anak yang selalu ribut sangat berat untuk seorang wanita muda ini. Tanggungan istri petani ini bertambah berat ketika dua keponakan yang nakal dari kota besar datang ke tanah pertanian mereka. Setelah kedatangan mereka, ketenangan di pertanian itu semakin terusik. Segalanya menjadi lebih kacau, berantakan, dan tidak terkendalikan.

Nanny McPhee datang kepada mereka ketika dibutuhkan meskipun tidak diinginkan dan ia akan pergi jika mereka menginginkan tetapi tidak membutuhkannya. Di pertanian ini, Nanny Mcphee yang diperankan oleh Emma Thompson, berada di tengah peperangan antara tiga anak petani desa dengan dua anak manja dari kota. Dengan kekuatan gaib dan tongkat ajaibnya terjadi bermacam-macam keajaiban untuk mengendalikan anak-anak itu. Dalam cerita film ini terjadi adegan seperti motor terbang, patung hidup, gajah bersikap aneh dan babi-babi penari. Tujuannya adalah untuk mengajarkan kepada lima anak ini, lima hal penting dalam kehidupan mereka. Yaitu, tidak berkelahi, saling membagi, saling menolong, berani, dan saling mempercayai.

Emma Thompson memerankan Nanny McPhee kedua kalinya. Film pertama dibuat pada tahun 2005 dan Kirk Jones adalah regisurnya. Pada film pertama berhasil ditunjukkan peran seorang nanny, didukung dengan kekuatan gaib. Inti cerita berhasil ditonjolkan dan sampai kepada penonton, tanpa mendramatiskan adegan-adegan kekuatan gaib. Meskipun cukup banyak adegan sihirnya tetapi semua adegannya luwes dan berdosis. Demikian juga pesan moral untuk penonton dan cerita humornya seimbang, sehingga penonton mendapat kesan yang luar biasa.

Sementara film Nanny McPhee kedua regisurnya diambil-alih oleh Susanna White dan Emma Thompson berperan sama seperti cerita pertama. Sayang sekali pada film ini kekuatan gaibnya lebih mendominasi kesuluruhan cerita. Jadi cerita inti hilang tertutup dengan adegan-adegan lucu, seperti guntingan klip video yang terpotong-potong, meskipun hal ini membuat penonton terbahak-bahak. Demikian juga beberapa pemain pendukung hanya mempunyai kwalitas pemain drama dalam sinetron bersambung pada sebuah TV. Hal ini berbeda sekali dengan film yang pertama.

Meskipun demikian film ini yang mempunyai gurauan kasar, histeris dan tidak masuk akal dengan jeritan-jeritan yang seharusnya tidak dibutuhkan ini, berhasil menarik perhatian dan menghibur anak-anak. Sayang sekali kesan dan pesan moral untuk anak-anak tentang kelima hal seperti yang telah disebutkan di atas terbang bersama babi-babi yang menari di udara, lenyap dan tenggelam di dalam danau ketika babi-babi itu berenang di telaga.

Singkatnya film ini adalah sebuah film hiburan untuk anak-anak dan kewajiban orang tua menjelaskan inti dari cerita tersebut dengan menekankan pesan moral sehingga anak-anak memahami dan mengerti cerita keseluruhan.

Antara Nijmegen dan Utrecht

Siang itu salju turun berat. Langit kelabu, suhu udara begitu dingin sepuluh derajat celsius di bawah nol, membekukan segala air di alam terbuka yang berada di Negeri tulip Belanda. Dingin yang menggigit, menembus mantel dan menusuk pori-pori kulit Jeroen. Jeroen laki-laki berumur 40 tahun dan sukses di bisnis informatika merapatkan krag mantel berwarna hitamnya, berusaha melindungi leher dari dingin yang sungguh terlalu. Dibukanya pintu mobil untuk Fleur, istri yang anggun dan masih cantik meskipun sudah berumur 35 tahun. Hanya saja lengkukan pinggang body gitarnya mulai tertutup dengan 14 minggu kehamilan. Perlahan stasion wagen berwarna hitam dari Ford Mondeo itu meluncur, meninggalkan tempat parkir rumah sakit Canisius Wilhelmina Nijmegen menuju rumah mereka di Utrecht.

Jeroen menambah kecepatan mobil baru itu yang ia tukar dengan mobil sport kesayangannya. Ia ingin segala keperluan bayi mulai dari kereta bayi, camping bed, hingga selimut, kelak dapat di tampung di bagasi yang cukup luas. Sekilas ia melirik Fleur yang menggigit bibir berusaha menahan isakan, sementara air mata wanita berambut pirang itu tak henti mengalir membasahi pipinya yang halus. Dihelanya nafas panjang ketika fikiran laki-laki itu tak mampu beralih apa yang dikatakan dokter Marijke van Klooster beberapa menit yang lalu.

“Hasil dari triple test echo yang ke dua ini juga memperlihatkan tebal lapisan cairan di bawah kulit leher belakang lebih dari 5,5 milimeter. Demikian juga hasil penelitian darah dan air ketuban. Dari hasil pemeriksaan ini, saya menyimpulkan bahwa 95% bayi ini, akan lahir dengan downsyndroom dalam kadar yang parah,” papar dokter ahli kandungan yang terkenal di Belanda itu. "Sementara dari hasil echo organ tubuh, tampak bahwa pertumbuhan jantungnya tidak sempurna sehingga setelah bayi ini lahir diperlukan beberapa operasi jantung,” lanjutnya setelah menarik nafas panjang.

“Jeroen,” suara Fleur yang parau itu membubarkan lamunannya. Laki-laki itu menoleh ke arah Fleur sebentar. Tangan kiri Jeroen memeggang setir mobil sementara tangan kanannya memegang tangannya Fleur yang halus dengan cat kuku berwarna merah tua. Tangan wanita belahan jiwanya itu dingin seperti es. “Operasi jantung untuk bayi downsyndrom,” guman Fleur gemetar dan nafasnya sesak, masih tidak percaya.

“Dokter Marijke belum bisa menentukan berapa jumlah operasi yang dibutuhkan untuk bayi kita. Dari pengalaman kasus yang terjadi pada bayi dengan downsyndroom dan komplikasi jantung seperti kasus bayi kita, dibutuhkan operasi jantung ketika baru lahir kemudian setelah tiga bulan, lalu setelah umur satu tahun dan selanjutnya mereka harus melihat perkembangan jantungnya, bisa jadi dibutuhkan 5 operasi,” kata Jeroen lagi tanpa memandang Fleur. Matanya memandang papan biru di atas jalan yang menunjukkan ke arah Utecht 70 km lagi.

Bayangan bayi mungil dan tak berdaya yang baru lahir berkelabat di benak Jeroen. Dalam lubang hidung bayi itu tertancap dua selang dan pada setiap nadi di tangan mungilnya penuh jarum bius. Bayi itu terbaring di atas meja operasi. Di atasnya lampu besar menggantung. Beberapa dokter berdiri melingkari bayi itu dengan jubah dan penutup hidup berwarna biru. Mereka memegang pisau dan gunting untuk mengoperasi jantungnya.

“Ini tidak benar, Jeroen. Katakan padaku bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk,” Fleur memohon, suara tangisannya meledak. Jeroen meremas tangan istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan diam seribu bahasa.

“Dari Echo pertama, kita sudah mempersiapkan diri untuk menerima bahwa bayi ini akan lahir dengan downsyndroom tetapi tidak dengan komplikasi jantung,” kata Fleur lagi dengan memandang wajah Jeroen yang ganteng itu dari bagian samping.

Pandanganan istrinya yang penuh kesedihan dan kekecewaan bagaikan pisau tumpul mencabik-cabik hatinya. Kepiluan yang amat dalam bagi seorang suami dan calon ayah yang selalu berjuang untuk kebahagiaan keluarganya.

Jeroen melirik sebuah amplop besar di pangkuan istrinya. Di telinga Jeroen masih terngiang-ngiang percakapan dokter Marijke dan istrinya ketika dokter setengah baya itu menyerahkan amplop, “Maafkan Saya karena harus menyampaikan berita buruk ini kepada Kalian. Di sini beberapa brosur informasi mengenai downsyndroom dengan komplikasi jantung. Juga beberapa alamat psikologi atau pekerja sosial yang akan mendampingi kalian jika kalian memutuskan untuk meneruskan kehamilan atau mungkin juga jika kalian memutuskan untuk tidak meneruskan kehamilan ini,”

“Apa maksudmu dengan tidak meneruskan kehamilanku?” Fleur memotong kata-kata dokter itu dan memandang dengan pandangan tajam, "Aku tidak akan menggugurkan bayi ini!"

“Pertimbangkan baik-baik, putuskan apa yang terbaik buat kalian. Minggu depan kita akan bertemu lagi. Kita bicarakan langkah selanjutnya. Kami tim dokter Nijmegen akan mendukung apapun putusan kalian.” katanya lagi.

Jeroen mengedip-mengedipkan matanya yang mulai buram dan berusaha mengkonsentrasikan pikirannya ke jalan cepat aspal yang licin itu. Ia mendorong kopling dengan kaki kanan dan mengendorkan kaki kirinya untuk mengurangi kecepatan mobil itu dari 100 ke 80 km. Tangan laki-laki itu memindahkan gigi mobil dari lima ke empat.

“Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur membisik. Jeroen hanya mengangguk dan diam seribu bahasa, hanya tangan kekar itu melepaskan gigi mobil dan kembali menggenggam tangan wanita berambut pirang biru di sebelahnya.

“Jeroen, Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur lagi, suara Fleur mengeras, dan sudut matanya berair. “Kita bisa melakukan ini berdua, merawat bayi kita. Apapun yang terjadi. Setelah 15 tahun aku berusaha untuk hamil! Setelah segala usaha yang kutempuh selama ini dan sekarang menggugurkan bayi ini, karena bayi ini cacat," wanita itu mengambil napas dalam-dalam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan melakukan ini!” kata Fleur berapi-api.

Padang rumput tanah pertanian di sebelah kiri dan kanan jalan A 73 yang dulu berwarna hijau terselimuti salju tebal. Pandangan Jeroen menuju ke depan ke arah lapisan putih di atas jalan, kadang-kadang ia memandang Fleur yang diam seribu bahasa dengan sudut mata kirinya. Sementara tangan kanan laki-laki bermata hijau keabu-abuan dan berambut kecoklatan memegang setir dan tangan kanannya masih memegang tangan kiri Fleur.

Di benaknya menari-nari bayangan anak kecil laki-laki penderita downsyndroom dengan kaki model-X. Muka gepeng, mata sipit melengkung, hidung pesek, mulut mungil tetapi selalu terbuka sementara lidahnya terlalu besar untuk ukuran mulut semungil itu, dan tangan yang bengkok. Gambaran anak itu tidak hanya hanya cacat fisik tetapi juga cacat intelektual dan dilengkapi penyakit jantung dan autism yang akan membuntuti kehidupan anak itu. Dalam hatinya ia berkata, "Bisakah aku mencintai anak ini?"

Di bayangannya ia menggendong anak kecil berdada rempeng, beberapa garis bekas jahitan operasi jantung meninggalkan bekas luka panjang. Mata anak itu bening tanpa dosa, memandang ke arahnya tanpa arti. Jeroen mengelus kepalanya kemudian mencium kening anak itu tetapi anak itu tidak bereaksi. Pandangan mata itu hampa, jiwa anak itu terkurung dalam tubuh yang lemah dan kecerdasannya terbelunggu di sebuah dunia lain.

“Aku tak perduli dengan kekurangan anak ini. Ini adalah anakku, darah dagingku. Aku akan mencintai anak ini meskipun anak ini tidak merasakan kehadiranku!” Jeroen bicara pada dirinya sendiri. Matanya memandang satu titik temu di jalan panjang, kakinya menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobil hitam itu.

Jeroen membayangkan saat ia dan istrinya berumur 70 tahun, tertatih-tatih mendorong kursi roda yang diduduki seorang laki-laki dewasa dengan celana yang dilapisi pampers sementara ribuan mata memandang aneh dan kasihan kepada mereka. Lalu beberapa anak kecil memanggil-manggil, ”He, lihat! Mongolia idiot! Mongolia idiot! Mongolia idiot!” Anak-anak itu menunjuk-nunjuk ke muka lemah itu.

"Bisakah aku melindungi anak ini dari dunia yang keras ini?" tanyanya lagi dalam hati.

Jeroen tidak berhasil membendung airmatanya, meskipun ia berusaha menahan dan menggigit bibir bawah dengan keras. Di dalam pikirannya gambaran anak itu tumbuh menjadi seorang dewasa dan masih terpenjara dalam sebuah tubuh lemah dan terikat dalam waktu tanpa akhir. Laki-laki itu pada akhirnya sendiri tanpa daya, tergantung pada orang lain di sekelilingnya. Tidak ada lagi seorang ayah dan ibu tua yang melindungi, merawat, dan mendorong kursi roda itu karena orang tua yang bernama Jeroen dan Fleur telah pergi menghadap yang kuasa dan meninggalkan laki-laki berumur, di dunianya, di atas kursi roda itu.

Jeroen tersentak oleh lamunannya.

“Aku tidak bisa…,” katanya dalam hati.
“Apa maksudmu tidak bisa?” tanya Jeroen pada dirinya.
“Aku tidak mampu menjadi Ayah untuk anak ini, aku tidak ingin anakku lahir dan kemudian memenjarakan di dalam tubuhnya yang lemah. Aku ingin membebaskan jiwa anakku untuk tidak lahir di dunia yang keras ini," kata Jeroen pada dirinya lagi.
“Tuhan ampuni aku!” Jeroen menelan ludahnya dan memandang sebelah kanan muka istri terkasih yang juga diam dalam lamunan.
“Aku menginginkan seorang anak, tetapi..tetapi, aku tidak ingin mempunyai seorang anak dengan kondisi cacat seperti itu,” katanya dalam hati sambil menginjak gas mobil lebih kencang. Kecepatan mobilnya bertambah menjadi 110 km di atas jalan licin.
“Begitu egoisnya aku menginginkan dan membiarkan anak ini lahir. Sementara aku tahu bahwa anak ini tidak bisa menikmati keindahan dan kehidupan di dunia ini karena keterbatasannya!” teriak laki-laki itu pada dirinya lagi.
“God verdomme! Nee...,nee...,nee...!” seru Jeroen terkejut dengan pikiran jeleknya.

Ia tidak sadar membanting setir mobil dan kemudian mengerem mobil itu dengan satu injakan kaki. Namun jalan aspal sebelum belokan ke jalan cepat menuju Utrecht yang dilapisi serbukan salju tebal itu, membuat mobil itu kehilangan keseimbangan, tergelincir, memutar 180 derajat, dan berhenti di tengah jalan. Dari arah belakang, sebuah trek gandeng yang melaju keras dengan kencang berusaha mengerem tetapi tak kuasa menghindarinya.


Sumber cerita: Khayalan penulis tetapi informasi tentang downsyndroom dari melihat langsung anak-anak penderita downsyndroom.
Posted by Dewi Ambarwati