Sabtu malam, 22 anak-anak muda berumur antara 12-18 tahun berkumpul di pinggiran kota. Beberapa dari mereka duduk di tangga beton dan yang lain berdiri. Mata dan telinga mereka berpusat pada Javier the copkiller, berumur 18 tahun, pemimpin gang. Dengan bangga pemuda ini menghitung jumlah korban yang ia tembak dengan jari-jari tangannya. Di pangkuannya sebuah senjata kaliber AK-47. Juan anggota termuda memandang pimpinannya dengan mata berbinar sambil memainkan pistol di tangan.
Inilah gambaran kehidupan 400.000 anak jalanan di Caracas. Mereka menjadi anggota dalam sebuah gang dan masing-masing mempunyai senjata. Pada awalnya pekerjaan mereka mencopet, mencuri, merampok, menyelundupkan narkotika kemudian meningkat menjadi pembunuh. Kasus pembunuhan tersebut terjadi dengan beribu alasan, seperti; membunuh karena harus melindungi diri terhadap serangan, membalas dendam karena salah satu anggota gang terbunuh dan bahkan karena untuk mendapat bayaran.
Peristiwa pembunuhan di ibu kota Venezuela terjadi hampir setiap hari, terutama pada malam Sabtu atau malam Minggu sampai mencapai 60 - 80 kasus. Pada akhir 2009 terjadi 20.000 kasus pembunuhan. Jumlah ini mencapai record tertinggi di dunia. Selanjutnya diperkirakan semakin meningkat per tahun, sampai-sampai pihak kepolisian berhenti menghitungnya. Korban dan pelaku kebanyakan adalah anak-anak jalanan yang sedang berkelahi dengan gang lainnya.
Seperti yang dipaparkan oleh Alberto Vollmer, seorang multi jutawan asal negeri itu, mengatakan bahwa masalah yang dihadapi mereka sama dengan masalah sosial yang dihadapi anak jalanan di negera-negara lain, bedanya anak jalanan di Caracas harus berjuang mempertahankan nyawa untuk hidup.
Alberto pengusaha kopi dan rum terbesar di Amerika Selatan mendirikan sebuah proyek yang disebut "Alcaltraz". Proyek ini menengahi para grup gang yang sedang bertikai dan mencoba membujuk para anggotanya keluar dari kehidupan jalanan untuk bekerja di pabriknya. Melalui proyek integrasi, ia berusaha mengubah masalah sosial dan psikologi mereka sehingga bisa kembali berfungsi sebagai pemuda bermasa-depan. Sampai saat ini 150 dari 400.000 anak jalanan itu dengan sukarela mengikuti proyek tersebut. Selebihnya masih di jalanan tanpa harapan.
Malam semakin larut, anak-anak jalanan itu berjalan bergerombol meninggalkan tempat berkumpulnya menuju kampung Patara, tempat pertemuan mereka dengan gang lainya. Javier the copkiller berjalan di samping Juan sambil berkata, “Waktu akan tiba, kamu pun akan tangguh seperti aku. Waspadalah selalu. Jika kamu ingin hidup, maka musuhmu harus mati!”
Tiba-tiba, "Bang! Bang! Bang!" Suara tembakan berasal dari arah selatan. Gerombolan itu bubar. Mereka melompat ke balik tembok. Beberapa bertiarap dan merangkak ke arah got. Javier menarik Juan ke belakang sebuah mobil, lalu membidikkan senjatanya ke arah selatan.
Di tengah suara tembakan yang bertubi-tubi, suara jeritan anak laki-laki dari belakang mobil melengking. Javier, pemuda ganteng dan pemimpin gang itu, terkapar di pangkuan seorang bocah kecil berumur 12 tahun. Banjiran darah mengalir dari dadanya.
maandag 26 april 2010
Abonneren op:
Reacties posten (Atom)
Geen opmerkingen:
Een reactie posten