maandag 26 april 2010

Di Balik Tembok Israel

Tembok pagar tebal berwarna putih abu-abu berdiri dengan kokoh di sepanjang mata memandang. Di bagian atas bangunan itu berbaris 10 jajaran kawat duri untuk menambah ketinggian tembok. Pada kawat duri itu, dililiti kabel listrik ribuan watt. Ratusan pipa besi tertancap dan berbaris di bagian atas. Pada setiap ujung pipa itu, menompang sebuah kotak lensa kamera ke arah Tepi Barat di Palestina.

Di sisi tembok itu beberapa coretan dan lukisan, dibuat oleh pemuda Palestina. Sebuah lukisan dari cat berwarna hitam, menggambarkan badan dan kepala seorang laki-laki tua dengan jubah putih yang dilingkari band hitam. Tangannya memegang dua kunci rumah yang ditinggalkan sejak tahun 1948. Rumahnya berada di tanah nenek moyang di balik tembok itu, tetapi di bawah kekuasaan Israel.

Beberapa langkah dari lukisan itu, beberapa rangkaian huruf ditulis dengan cat merah, berbunyi; “Free Palestina!” Lalu beberapa kalimat menyusul dibawahnya; ”Im not terrorist, I live here.” Kemudian jarak dua meternya lagi sebuah kalimat berwarna hitam dengan huruf kapital; “Who are you? Catholic, Jew, Muslim, Human being…” dan disusul dengan huruf bergandeng; "This wall is a shame on the Jewish people, on my people.”

Tembok pemisah itu melingkari Tepi Barat bagaikan sebuah penjara bagi penduduk. Dibangun oleh bangsa Israel sejak tahun 2002 dan tahun 2010 ini hampir selesai. Panjangnya sekitar 700 km dengan ketinggian sekitar 3 meter. Biaya tembok ini diperkirakan per kilo meternya sekitar dua juta Euro. Tujuannya untuk melindungi penduduk Israel dari bahaya serangan lawan yang mereka sebut sebagai teroris.


Palestina tidak menerima ini karena menginjak harkat, martabat dan menghancurkan ekonomi bangsanya. Demikian juga PBB menganggap tembok ini ilegal. Selain itu Israel membangun tembok dengan berbelok-belok, 80% berada di atas tanah penduduk Palestina. Ini sangat menyakitkan karena mereka terpaksa menyerahkan tanahnya.

Jika penduduk harus mencapai daerah bagian lain demi pekerjaan atau mengunjungi sanak dan keluarga di daerah lain di balik tembok, maka penduduk Palestina ini harus melewati puluhan check point yang diawasi ketat oleh tentara-tentara Israel. Ini membutuhkan waktu berjam-jam karena harus melalui jalan putar. Itupun tidak gampang, kadang mereka setelah melakukan perjalanan yang jauh, ternyata tidak lolos memasuki pintu gerbang. Akibatnya mereka terisolasi dan merasakan hidup seperti di penjara.

Ratusan Check point tidak hanya berada di pintu gerbang masuk, tetapi berada di sisi jalan yang bersebelahan dengan tembok dan berada di wilayah negara Palestina. Sehingga para pengguna jalan harus dipatroli seperti pencuri. Contohnya saja untuk mencapai daerah lain di Tepi Barat yang berada sekitar 20-30 km dari arah selatan Ramallah, ibu kota Palestina, membutuhkan waktu berjam-jam. Karena harus melalui puluhan Check point dan jalan putar. Hal ini sangat mempersulit distribusi bahan pokok dan membuat frustasi penduduk.

Seperti yang terjadi di daerah Qalqilaya, Israel membangun tembok sepanjang 2 km dengan ketinggian tidak hanya 3 meter, malahan 8 meter dan berjarak 100 meter dari rumah penduduk. Ini mengakibatkan kerugian penduduk Palestina, karena merusak tanah dan rumah.

Suatu siang, ketika matahari mulai tenggelam di balik tembok tinggi 8 meter dan suara adzan luhur dari ufuk timur, seorang laki-laki muda berumur 19 tahun menulis di atas meja di bawah jendela. Mata kirinya kadang menatap tembok tempat dimana dulu dereten pohon zaitun dari orang tuanya. Rambutnya rapi dan dipotong pendek. Di pipi dan bibir tampak goresan bekas luka dan mata kanannya buta akibat pecahan kaca mobil yang meledak karena bom dua tahun lalu. Di dalam kamar yang selalu pengap dan remang, akibat dari tembok tinggi yang menghalangi masuknya cahaya matahari dan menutup rumah dengan bayangan hitam. Ia berusaha melebarkan kelopak mata kirinya lebar-lebar untuk bisa melihat dengan jelas.

Di atas kertas putih buram ia menulis;
"Aku menunggu, hari indah untuk membebaskan penderitaan bangsa Palestina dari belenggu bangsa Israel. Aku mencari jalan menuju tanah airku, jalan menuju identitasku. Meskipun dalam impian. Aku menunggu, untuk kembali ke ladang zaitun di balik tembok tinggi itu. Meskipun 100 tahun lagi."

Sumber:
1. Preliminary analysis of the humanitarian implications of Barrier Projections, UN OCHA.
2. United Civilians for Peace,
3. Berita Veronica- Belanda
4. Telegraaf.

Geen opmerkingen:

Een reactie posten