Siang itu salju turun berat. Langit kelabu, suhu udara begitu dingin sepuluh derajat celsius di bawah nol, membekukan segala air di alam terbuka yang berada di Negeri tulip Belanda. Dingin yang menggigit, menembus mantel dan menusuk pori-pori kulit Jeroen. Jeroen laki-laki berumur 40 tahun dan sukses di bisnis informatika merapatkan krag mantel berwarna hitamnya, berusaha melindungi leher dari dingin yang sungguh terlalu. Dibukanya pintu mobil untuk Fleur, istri yang anggun dan masih cantik meskipun sudah berumur 35 tahun. Hanya saja lengkukan pinggang body gitarnya mulai tertutup dengan 14 minggu kehamilan. Perlahan stasion wagen berwarna hitam dari Ford Mondeo itu meluncur, meninggalkan tempat parkir rumah sakit Canisius Wilhelmina Nijmegen menuju rumah mereka di Utrecht.
Jeroen menambah kecepatan mobil baru itu yang ia tukar dengan mobil sport kesayangannya. Ia ingin segala keperluan bayi mulai dari kereta bayi, camping bed, hingga selimut, kelak dapat di tampung di bagasi yang cukup luas. Sekilas ia melirik Fleur yang menggigit bibir berusaha menahan isakan, sementara air mata wanita berambut pirang itu tak henti mengalir membasahi pipinya yang halus. Dihelanya nafas panjang ketika fikiran laki-laki itu tak mampu beralih apa yang dikatakan dokter Marijke van Klooster beberapa menit yang lalu.
“Hasil dari triple test echo yang ke dua ini juga memperlihatkan tebal lapisan cairan di bawah kulit leher belakang lebih dari 5,5 milimeter. Demikian juga hasil penelitian darah dan air ketuban. Dari hasil pemeriksaan ini, saya menyimpulkan bahwa 95% bayi ini, akan lahir dengan downsyndroom dalam kadar yang parah,” papar dokter ahli kandungan yang terkenal di Belanda itu. "Sementara dari hasil echo organ tubuh, tampak bahwa pertumbuhan jantungnya tidak sempurna sehingga setelah bayi ini lahir diperlukan beberapa operasi jantung,” lanjutnya setelah menarik nafas panjang.
“Jeroen,” suara Fleur yang parau itu membubarkan lamunannya. Laki-laki itu menoleh ke arah Fleur sebentar. Tangan kiri Jeroen memeggang setir mobil sementara tangan kanannya memegang tangannya Fleur yang halus dengan cat kuku berwarna merah tua. Tangan wanita belahan jiwanya itu dingin seperti es. “Operasi jantung untuk bayi downsyndrom,” guman Fleur gemetar dan nafasnya sesak, masih tidak percaya.
“Dokter Marijke belum bisa menentukan berapa jumlah operasi yang dibutuhkan untuk bayi kita. Dari pengalaman kasus yang terjadi pada bayi dengan downsyndroom dan komplikasi jantung seperti kasus bayi kita, dibutuhkan operasi jantung ketika baru lahir kemudian setelah tiga bulan, lalu setelah umur satu tahun dan selanjutnya mereka harus melihat perkembangan jantungnya, bisa jadi dibutuhkan 5 operasi,” kata Jeroen lagi tanpa memandang Fleur. Matanya memandang papan biru di atas jalan yang menunjukkan ke arah Utecht 70 km lagi.
Bayangan bayi mungil dan tak berdaya yang baru lahir berkelabat di benak Jeroen. Dalam lubang hidung bayi itu tertancap dua selang dan pada setiap nadi di tangan mungilnya penuh jarum bius. Bayi itu terbaring di atas meja operasi. Di atasnya lampu besar menggantung. Beberapa dokter berdiri melingkari bayi itu dengan jubah dan penutup hidup berwarna biru. Mereka memegang pisau dan gunting untuk mengoperasi jantungnya.
“Ini tidak benar, Jeroen. Katakan padaku bahwa ini hanya sebuah mimpi buruk,” Fleur memohon, suara tangisannya meledak. Jeroen meremas tangan istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan diam seribu bahasa.
“Dari Echo pertama, kita sudah mempersiapkan diri untuk menerima bahwa bayi ini akan lahir dengan downsyndroom tetapi tidak dengan komplikasi jantung,” kata Fleur lagi dengan memandang wajah Jeroen yang ganteng itu dari bagian samping.
Pandanganan istrinya yang penuh kesedihan dan kekecewaan bagaikan pisau tumpul mencabik-cabik hatinya. Kepiluan yang amat dalam bagi seorang suami dan calon ayah yang selalu berjuang untuk kebahagiaan keluarganya.
Jeroen melirik sebuah amplop besar di pangkuan istrinya. Di telinga Jeroen masih terngiang-ngiang percakapan dokter Marijke dan istrinya ketika dokter setengah baya itu menyerahkan amplop, “Maafkan Saya karena harus menyampaikan berita buruk ini kepada Kalian. Di sini beberapa brosur informasi mengenai downsyndroom dengan komplikasi jantung. Juga beberapa alamat psikologi atau pekerja sosial yang akan mendampingi kalian jika kalian memutuskan untuk meneruskan kehamilan atau mungkin juga jika kalian memutuskan untuk tidak meneruskan kehamilan ini,”
“Apa maksudmu dengan tidak meneruskan kehamilanku?” Fleur memotong kata-kata dokter itu dan memandang dengan pandangan tajam, "Aku tidak akan menggugurkan bayi ini!"
“Pertimbangkan baik-baik, putuskan apa yang terbaik buat kalian. Minggu depan kita akan bertemu lagi. Kita bicarakan langkah selanjutnya. Kami tim dokter Nijmegen akan mendukung apapun putusan kalian.” katanya lagi.
Jeroen mengedip-mengedipkan matanya yang mulai buram dan berusaha mengkonsentrasikan pikirannya ke jalan cepat aspal yang licin itu. Ia mendorong kopling dengan kaki kanan dan mengendorkan kaki kirinya untuk mengurangi kecepatan mobil itu dari 100 ke 80 km. Tangan laki-laki itu memindahkan gigi mobil dari lima ke empat.
“Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur membisik. Jeroen hanya mengangguk dan diam seribu bahasa, hanya tangan kekar itu melepaskan gigi mobil dan kembali menggenggam tangan wanita berambut pirang biru di sebelahnya.
“Jeroen, Aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” kata Fleur lagi, suara Fleur mengeras, dan sudut matanya berair. “Kita bisa melakukan ini berdua, merawat bayi kita. Apapun yang terjadi. Setelah 15 tahun aku berusaha untuk hamil! Setelah segala usaha yang kutempuh selama ini dan sekarang menggugurkan bayi ini, karena bayi ini cacat," wanita itu mengambil napas dalam-dalam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan melakukan ini!” kata Fleur berapi-api.
Padang rumput tanah pertanian di sebelah kiri dan kanan jalan A 73 yang dulu berwarna hijau terselimuti salju tebal. Pandangan Jeroen menuju ke depan ke arah lapisan putih di atas jalan, kadang-kadang ia memandang Fleur yang diam seribu bahasa dengan sudut mata kirinya. Sementara tangan kanan laki-laki bermata hijau keabu-abuan dan berambut kecoklatan memegang setir dan tangan kanannya masih memegang tangan kiri Fleur.
Di benaknya menari-nari bayangan anak kecil laki-laki penderita downsyndroom dengan kaki model-X. Muka gepeng, mata sipit melengkung, hidung pesek, mulut mungil tetapi selalu terbuka sementara lidahnya terlalu besar untuk ukuran mulut semungil itu, dan tangan yang bengkok. Gambaran anak itu tidak hanya hanya cacat fisik tetapi juga cacat intelektual dan dilengkapi penyakit jantung dan autism yang akan membuntuti kehidupan anak itu. Dalam hatinya ia berkata, "Bisakah aku mencintai anak ini?"
Di bayangannya ia menggendong anak kecil berdada rempeng, beberapa garis bekas jahitan operasi jantung meninggalkan bekas luka panjang. Mata anak itu bening tanpa dosa, memandang ke arahnya tanpa arti. Jeroen mengelus kepalanya kemudian mencium kening anak itu tetapi anak itu tidak bereaksi. Pandangan mata itu hampa, jiwa anak itu terkurung dalam tubuh yang lemah dan kecerdasannya terbelunggu di sebuah dunia lain.
“Aku tak perduli dengan kekurangan anak ini. Ini adalah anakku, darah dagingku. Aku akan mencintai anak ini meskipun anak ini tidak merasakan kehadiranku!” Jeroen bicara pada dirinya sendiri. Matanya memandang satu titik temu di jalan panjang, kakinya menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobil hitam itu.
Jeroen membayangkan saat ia dan istrinya berumur 70 tahun, tertatih-tatih mendorong kursi roda yang diduduki seorang laki-laki dewasa dengan celana yang dilapisi pampers sementara ribuan mata memandang aneh dan kasihan kepada mereka. Lalu beberapa anak kecil memanggil-manggil, ”He, lihat! Mongolia idiot! Mongolia idiot! Mongolia idiot!” Anak-anak itu menunjuk-nunjuk ke muka lemah itu.
"Bisakah aku melindungi anak ini dari dunia yang keras ini?" tanyanya lagi dalam hati.
Jeroen tidak berhasil membendung airmatanya, meskipun ia berusaha menahan dan menggigit bibir bawah dengan keras. Di dalam pikirannya gambaran anak itu tumbuh menjadi seorang dewasa dan masih terpenjara dalam sebuah tubuh lemah dan terikat dalam waktu tanpa akhir. Laki-laki itu pada akhirnya sendiri tanpa daya, tergantung pada orang lain di sekelilingnya. Tidak ada lagi seorang ayah dan ibu tua yang melindungi, merawat, dan mendorong kursi roda itu karena orang tua yang bernama Jeroen dan Fleur telah pergi menghadap yang kuasa dan meninggalkan laki-laki berumur, di dunianya, di atas kursi roda itu.
Jeroen tersentak oleh lamunannya.
“Aku tidak bisa…,” katanya dalam hati.
“Apa maksudmu tidak bisa?” tanya Jeroen pada dirinya.
“Aku tidak mampu menjadi Ayah untuk anak ini, aku tidak ingin anakku lahir dan kemudian memenjarakan di dalam tubuhnya yang lemah. Aku ingin membebaskan jiwa anakku untuk tidak lahir di dunia yang keras ini," kata Jeroen pada dirinya lagi.
“Tuhan ampuni aku!” Jeroen menelan ludahnya dan memandang sebelah kanan muka istri terkasih yang juga diam dalam lamunan.
“Aku menginginkan seorang anak, tetapi..tetapi, aku tidak ingin mempunyai seorang anak dengan kondisi cacat seperti itu,” katanya dalam hati sambil menginjak gas mobil lebih kencang. Kecepatan mobilnya bertambah menjadi 110 km di atas jalan licin.
“Begitu egoisnya aku menginginkan dan membiarkan anak ini lahir. Sementara aku tahu bahwa anak ini tidak bisa menikmati keindahan dan kehidupan di dunia ini karena keterbatasannya!” teriak laki-laki itu pada dirinya lagi.
“God verdomme! Nee...,nee...,nee...!” seru Jeroen terkejut dengan pikiran jeleknya.
Ia tidak sadar membanting setir mobil dan kemudian mengerem mobil itu dengan satu injakan kaki. Namun jalan aspal sebelum belokan ke jalan cepat menuju Utrecht yang dilapisi serbukan salju tebal itu, membuat mobil itu kehilangan keseimbangan, tergelincir, memutar 180 derajat, dan berhenti di tengah jalan. Dari arah belakang, sebuah trek gandeng yang melaju keras dengan kencang berusaha mengerem tetapi tak kuasa menghindarinya.
Sumber cerita: Khayalan penulis tetapi informasi tentang downsyndroom dari melihat langsung anak-anak penderita downsyndroom.
Posted by Dewi Ambarwati
maandag 26 april 2010
Abonneren op:
Reacties posten (Atom)
Geen opmerkingen:
Een reactie posten