zaterdag 6 februari 2010

Di Bawah Sayap Irene

Irene Okech wanita cantik berdarah Indonesia-Belanda lahir di Irian jaya, pendiri rumah panti asuhan Lionessubshome Kenia yang pernah mendapatkan kartu ucapan secara pribadi dari Presiden Amerika serikat Barack Obamma. Inilah hasil wawancara penulis.

Pada awalnya, tahun 1996/1997 pertama kalinya Irene berada di Kenia karena pekerjaannya. Ia melihat anak-anak berumur 5-15 tahun berkumpul di pinggir jalan sambil meminta-minta. Badan mereka kurus, mata merah dan baju mereka kotor. Beberapa dari mereka duduk sambil mengisap lem. Saat itu Irene sedang makan di rumah makan yang menyediakan kursi di luar. Anak-anak itu melambai-lambaikan tangan mereka kepadanya sambil membuat isyarat dengan memasukkan tangan mereka ke mulut dan memegang perut yang buncit karena kurang gizi. Saat itu Irene sedih menanggapinya dan berjanji pada dirinya untuk kembali ke Kenia untuk memberikan mereka rumah, memelihara dan memberikan mereka masa depan.

Pada bulan November 2001 Irene kembali lagi ke Kenia. Ia menjemput 8 anak-anak jalanan itu dan membawa mereka itu ke rumah kontrakannya. Anak-anak tersebut dimandikan dan diberi makan. Malahan ia mencuci baju-baju mereka yang sangat kotor dan bau yang dipakai bertumpuk-tumpuk dengan tangannya.

Masalah yang dihadapi Irene tidak hanya masalah biaya dan rumah yang harus berpindah-pindah, tetapi juga masalah sosial, moral dan psikologi dari 8 anak asuhnya dari jalanan. Anak-anak jalanan itu mempunyai masalah hidup yang kompleks. Mereka biasa mencuri, memeras dan kadang-kadang mereka adalah korban pelecehan sexuel. Beberapa anak-anak tersebut sudah beberapa kali masuk dan keluar penjara sehingga anak-anak ini sulit dididik dan diarahkan.

Pada akhirnya 6 anak jalanan itu meninggalkan rumah Irene. Mereka lebih memilih kembali ke dunia mereka, tetapi datang anak-anak lain yang menggantikannya. Sekarang berjumlah 17 anak, mereka adalah anak-anak yatim piatu, korban panganiayaan dan juga anak-anak penderita aids.

“ Saya tidak ingin menambah jumlah mereka. Selain rumah yang tidak besar, Saya ingin memberikan kwalitas kehidupan yang tinggi. Saya mengirim anak-anak ke sekolah swasta yang harganya 100 euro per tiga bulan. Hal ini disebabkan karena sekolah negeri di Kenia sangat jelek kwalitasnya.” katanya.

Ketika Irene dan penulis sedang asyik menikmati makan siang, Irene menerima telepon dari Ingris, bendahara dan wanita penting yang menolong panti asuhannya. Dari raut mukanya, penulis bisa melihat situasi yang mengkawatirkan. Kata Irene; “Someone must print it! I already send the document! Somebody must help us !”

"Budaya korupsi para aparat negara di Kenia juga sangatlah tinggi. Para aparat pemerintah Kenia mengancam untuk menutup panti asuhan Lionesscubhome, karena ada beberapa akte dari beberapa anak tidak lengkap dan beberapa dokumen yang kurang! Sementara saya sudah mengirim beberapa dokumen itu melalui email. Mereka tinggal memprinter. Mereka ingin mempersulit. Memang banyak anak-anak tidak mempunyai akte. Kemana saya harus mencari akte tersebut? Mereka tidak punya apa-apa dan siapa-siapa, lebih-lebih akte kelahiran. Jika ada uang cash di meja, maka semuanya akan lebih gampang,” katanya menjelaskan kepada penulis.

"Saya ingin menolong anak-anak mereka, tetapi mereka sangat mempersulit, Jika mereka ingin menutup silahkan! Asalkan mereka bisa menghidupi mereka! Mereka sudah mengancam saya untuk menutup panti asuhan ini sejak empat tahun yang terakhir,” katanya kesal.

Sekitar dua tahun lalu Irene harus kembali ke Belanda dan meninggalkan anak-anak asuhnya demi keamanannya. Hal ini disebabkan akibat perang saudara di Kenia tahun akhir 2007/2008. Kembali ke Belanda adalah sebuah perjuangan untuk Irene dan keluarganya, karena bisnis yang ia telah di perjuangkan di Kenia harus ditinggalkan. Di Belanda ia harus dimulai lagi dari nol. Irene harus mengontrak rumah kecil sementara ia harus tetap bertanggung jawab terhadap nasib anak-anak asuhnya. Dari Belanda Irene masih menyokong dan meperjuangkan nasib anak-anak asuhnya.

“Saya sangat merindukan mereka, kaki kanan saya berada di Belanda dan kaki kiri saya berada di Kenia. Ketika saya menelpon anak-anak asuh saya, anak-anak saya berbicara dengan suaranya yang manis dan manja mengatakan: “Mammi, I miss you, where is Daddy?”. Hati saya hancur mendengar suara mereka. Rasanya saya ingin merangkak melalui kabel telpon dan memeluk anak-anak saya,” katanya sedih.

Geen opmerkingen:

Een reactie posten