Hal ini terjadi saat aku berlibur ke Roma pada bulan september 2009.
Sebelum aku berkunjung ke Roma aku menelpon beberapa kenalanku di Indonesia yang punya hubungan dengan Vatikan.
Aku mencari conectie melalui pastor kenalanku supaya aku bisa mengikuti misa yang dipimpin oleh paus. Juga melalui kakakku yang tercinta Tuty yang suaminya anggota DPRD Manado yang kenal baik dengan uskup Manado akan berusaha mencari conectie buatku. Tapi hasilnya nihil!
Pada hari 'H'aku berangkat ke Roma tanpa conectie seperti yang kuharapkan. Suamiku membaca dari buku bahwa pada setiap hari minggu tepatnya jam 12 siang Paus akan berdiri di balkon St.Pieter dan memberkati para pengikutnya yang jumlahnya beratus-ratus orang menunggu Paus. Mungkin aku harus puas melihat Paus dari kejahuan sambil berdesak-desak dengan para turis yang lain.
Hari pertama di Roma aku mengujungi pusat Roma dan beberapa gereja serta berapa museum. Hari kedua aku pergi ke museum Vatikan. Aku menghabiskan waktu sampai sampai tengah hari untuk mengunjungi museum.
Setelah makan siang disebuah teras dengan menu makanan Italia dan tentunya segelas anggur merah aku menuju ke gereja st. Pieter. Gereja yang amat megah dan mewah berdiri di mukaku. Aku mengamati keindahan gereja yang amat megah. Bermacam-macam gereja telah kukunjungi dari Paris, London, Florencia, Brazil, Antwerpen, Brussel dan Belanda, ternyata St. Pieter adalah gereja yang paling indah. Setelah berjam-jam mengagumi gereja aku pergi berkunjung ke makam para Paus di bawah gereja. Kemudian aku kembali ke dalam gereja lagi. Para toerist sudah pergi....aku melihat beberapa petugas yang sedang mengatur kursi dan mempersiapkan altas untuk sebuah misa.
Dari para karyawan aku mendapatkan informasie bahwa besok ada pentasbisan 5 Bischop. Aku menanyakan kepada mereka apakah mungkin aku bisa mengikuti misa tersebut. Para karyawan tersebut mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin, karena misa besok sudah penuh dan dan yang tertarik untuk mengikuti misa harus mendapatkan undangan atau memesan tempat beberapa bulan sebelumnya. Tapi aku juga bisa mencoba mencari pasukan swis yang menjaga di pintu gerbang istana Vatikan sebelah kiri gereja, terkadang mereka masih mempunyai sisa-sisa undangan.
Aku berlari menuju pintu gerbang istana dan di sana kau melihat pasukan Swis yang memakai seragam seperti seragam piet Hitam di cerita Sinterklaas versie Belanda. Pakainnya indah sekali. Aku berjalan ke tangga atas dan pasukan tersebut memberhentikan aku dan menanyakan keinginanku. Dengan gemetar aku meminta undangan untuk misa untuk besok.
Kemudian berapa menit kemudian datang pengawal tersebut dengan dua buah undangan buatku sehingga aku bisa mengikuti misa tersebut. Aku melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan terindah.
Hari jumat pagi jam 9 aku sudah berada di dalam gereja. Para pengunjung memakai baju resmi. Untung aku bawa rok dan sepatu hak, sementara Robert suamiku hanya memakai kemeja dan jeans. Ternyata banyak para undangan dari Brazilia, Amerika latin, Arika Selatan, orang penting Italia dan keluarga besar Vatikan tentunya.
Aku mendapatkan kursi di tengah gereja st. Pieter yang berukuran seperti lapangan sepak bola. Dari pintu gerbang Paus memasuki gereja dikawal oleh para Bischop yang akan ditasbishkan dan para misdienar dan satu pasukan pengawal Swis dengan seragam Piet Hitam.
Aku bisa melihat Paus beberapa meter dari tempat dudukku. Pertama-tama para undangan dan para pastor yang duduk disebelahku duduk dengan manisnya, tetapi ketika Paus memasuki gereja semuanya menjadi histeris. Para suster yang menangis dan para pastor berdiri di kursi untuk mebuat foto. Aku juga berdiri berdiri di atas kursi dengan sepatuku yang berhak 10 cm, sementara suamiku memegang pahaku supaya aku tidak jatuh. Jangan salahkan aku, karena semua orang di muka dan sampingku berdiri dan aku terpaksa harus berdiri.
Aku bisa melihat Paus dengan jarak dekat dan bisa melihat kerut di mukanya. sepertinya aku melihat seseorang yang penuh pancaran suci.
Untung saat misa di mulai semua orang tenang dan duduk dikursi masing-masing dan mengikuti misa dengan khusuk.
Benar-benar sebuah pengalaman yang luar biasa buatku mengikuti misa terindah dengan koor yang sangat merdu dan di gereja terindah yang dipimpin oleh Paus Benedict. Tapi jangan ditanya apa aku mengerti isi misa tersebut. Karena misa tersebut dalam bahasa Italia dan aku tidak mengerti sama sekali.
Geen opmerkingen:
Een reactie posten